Pendidikan Moral dan Krisis Kepercayaan di Era Polarisasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Polarisasi sosial dan politik global telah memicu
krisis kepercayaan yang meluas. Kepercayaan antarkelompok melemah seiring
menguatnya narasi saling curiga. Dalam situasi seperti ini, pendidikan moral
memegang peran strategis. Ia berupaya memulihkan kepercayaan yang terkikis oleh
konflik kepentingan. Kepercayaan bukan sekadar persoalan perasaan, tetapi
fondasi kehidupan bersama. Tanpa kepercayaan, dialog kehilangan makna dan kerja
sama menjadi rapuh. Pendidikan moral hadir untuk meneguhkan kembali nilai kejujuran
dan tanggung jawab. Nilai inilah yang menjadi dasar bagi pemulihan relasi
sosial.
Krisis kepercayaan sering diperparah oleh penyebaran
informasi yang manipulatif. Polarisasi membuat informasi digunakan sebagai alat
pembenaran. Pendidikan moral melatih kemampuan menilai informasi secara etis.
Penilaian ini tidak hanya berbasis fakta, tetapi juga dampak sosialnya. Dengan
demikian, individu tidak mudah terjebak dalam narasi yang memecah belah.
Kepercayaan juga berkaitan dengan konsistensi antara
kata dan tindakan. Polarisasi sering menampilkan kontradiksi moral yang tajam.
Pendidikan moral menekankan pentingnya integritas personal. Integritas membantu
menjaga keselarasan antara nilai yang diyakini dan perilaku nyata. Tanpa
integritas, kepercayaan sulit tumbuh kembali.
Selain itu, pendidikan moral menumbuhkan kesediaan
untuk bertanggung jawab atas dampak sosial tindakan. Dalam dunia terpolarisasi,
kesalahan sering dialihkan kepada pihak lain. Pendidikan moral mendorong
refleksi diri sebelum menyalahkan. Refleksi ini membuka peluang rekonsiliasi.
Dari sinilah kepercayaan perlahan dipulihkan.
Krisis kepercayaan juga menyentuh hubungan lintas
budaya dan bangsa. Polarisasi global memperkuat stereotip dan prasangka.
Pendidikan moral membantu membongkar generalisasi yang menyesatkan. Dengan
memahami kompleksitas realitas, kepercayaan lintas kelompok dapat dibangun
kembali. Pemahaman menjadi dasar empati yang lebih luas.
Proses membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu
dan konsistensi. Pendidikan moral tidak menawarkan solusi instan. Ia bekerja
melalui pembiasaan sikap etis yang berkelanjutan. Proses ini sering tidak
terlihat, tetapi dampaknya mendalam. Kepercayaan tumbuh dari akumulasi tindakan
kecil yang jujur.
Pada akhirnya, pendidikan moral berperan penting dalam
merespons krisis kepercayaan di era polarisasi global. Ia menegaskan kembali
nilai kejujuran dan integritas sebagai fondasi kehidupan bersama. Tanpa
pendidikan moral yang kuat, krisis kepercayaan akan terus berlarut.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah