Proxy Membantu Anak Sekolah Dasar Mengakses Media Pembelajaran Digital Seperti YouTube dan ChatGPT dengan Aman
s2dikdas.fip.unesa.ac.id , Surabaya — Perkembangan teknologi digital membuat anak sekolah dasar semakin akrab dengan media pembelajaran online seperti YouTube dan ChatGPT. Melalui platform tersebut, siswa dapat menonton video penjelasan materi, animasi melihat pembelajaran, hingga bertanya tentang hal-hal yang belum mereka pahami. Namun, di balik manfaat besar itu, ada tantangan serius terkait keamanan konten dan penggunaan internet yang belum sepenuhnya ramah anak. Dimasukkannya peran proxy menjadi penting sebagai perantara yang membantu anak mengakses media pembelajaran digital secara lebih aman dan terkontrol.
Proxy berfungsi sebagai penyaring dan pengamanan ketika anak mengakses internet melalui perangkat sekolah atau rumah. Dengan menggunakan proxy, guru dan orang tua dapat membatasi situs yang boleh diakses, memblokir konten yang tidak sesuai usia, serta mengarahkan anak hanya ke sumber belajar yang relevan. Saat siswa membuka YouTube, misalnya, proxy dapat membantu memastikan video yang muncul bersifat edukatif dan bebas dari iklan atau konten negatif. Hal ini membuat proses belajar menjadi lebih fokus dan tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak berhubungan dengan pembelajaran.
Dalam penggunaan ChatGPT sebagai media belajar, proxy juga memiliki peran strategis. Anak sekolah bantuan dasar yang menggunakan ChatGPT dapat memperoleh materi penjelasan, contoh soal, atau ide kreatif dengan bahasa yang lebih sederhana. Melalui pengaturan proxy, akses ke fitur atau topik tertentu dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak. Dengan demikian, ChatGPT tidak hanya menjadi alat teknologi canggih, tetapi juga teman belajar yang aman dan sesuai dengan dunia anak-anak.
Selain menjaga keamanan, proxy juga membantu guru dalam mengelola pembelajaran digital secara lebih efektif. Guru dapat menghubungkan aktivitas berani siswa, memastikan waktu penggunaan media digital tidak berlebihan, serta mengintegrasikan YouTube dan ChatGPT ke dalam kegiatan belajar yang terarah. Misalnya, guru dapat merancang tugas menonton video pembelajaran tertentu di YouTube atau meminta siswa bertanya pada ChatGPT dengan panduan khusus. Proxy menjadi alat pendukung yang membuat pembelajaran digital tetap berada di jalur pendidikan, bukan sekadar hiburan.
Pada akhirnya, penggunaan proxy dalam pembelajaran digital di sekolah dasar bukanlah bentuk tindakan semata, melainkan upaya perlindungan dan pendampingan. Anak-anak tetap dapat menikmati manfaat teknologi modern seperti YouTube dan ChatGPT, tetapi dalam lingkungan yang aman, terkontrol, dan edukatif. Dengan dukungan proxy, guru dan orang tua dapat bekerja sama menciptakan pengalaman belajar digital yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak sekolah dasar di era digital.
###
Penulis: Sabila Widyawati