Refleksi Pendidikan Dasar: Menghapus Trauma Belajar demi Generasi Emas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sebagai
bagian dari refleksi besar pendidikan nasional, upaya menghapus trauma belajar
di jenjang SD melalui transisi metode dari hafalan ke pemecahan masalah menjadi
agenda prioritas. Langkah ini dipandang sebagai syarat mutlak untuk mewujudkan
visi Generasi Emas yang tangguh dan kreatif. Pendidikan dasar tidak boleh lagi
menjadi tempat yang menyemaikan ketakutan, melainkan harus menjadi taman yang
menumbuhkan keberanian berpikir dan kemandirian dalam mencari solusi.
Trauma
belajar adalah penghambat utama bagi inovasi bangsa karena ia mematikan
keberanian untuk mencoba hal baru sejak usia dini. Ketika seorang anak trauma
belajar karena dipaksa menghafal, ia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang
takut pada perubahan dan hanya mau mengikuti instruksi. Dengan mengubah pola
belajar menjadi pemecahan masalah, kita sedang melakukan "penyembuhan
nasional" terhadap mentalitas ketergantungan dan kepasifan akademik.
Keberhasilan
gerakan ini bergantung pada kolaborasi erat antara sekolah, orang tua, dan
pemerintah. Orang tua perlu menyadari bahwa nilai tinggi dalam hafalan bukan
jaminan kesuksesan di masa depan, sementara pemerintah harus menyediakan payung
kebijakan yang melindungi proses belajar yang kreatif. Hanya dengan sinergi
yang kuat, trauma belajar dapat dihapus sepenuhnya dari sistem pendidikan kita
dan digantikan oleh budaya prestasi yang sehat dan bermakna.
Sekolah-sekolah
pionir yang telah menerapkan metode ini menunjukkan hasil yang luar biasa:
tingkat absensi menurun, keterlibatan siswa meningkat, dan kepercayaan diri
anak-anak tumbuh pesat. Ini adalah bukti bahwa anak-anak sebenarnya sangat
mencintai ilmu pengetahuan jika disajikan dalam cara yang menantang nalar
mereka, bukan yang menekan memori mereka. Menghapus trauma belajar adalah
langkah paling nyata untuk menghargai potensi manusia Indonesia seutuhnya.
Mari
kita pastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan yang diambil selalu berpihak
pada kesejahteraan emosional siswa. Menghapus trauma belajar bukan hanya
tentang mengubah kurikulum, tetapi tentang mengubah hati dan pikiran kita
mengenai cara memperlakukan anak-anak dalam proses pendidikan. Dengan pemecahan
masalah sebagai ruh utama, kita optimis bahwa sekolah akan menjadi jembatan
cahaya bagi masa depan yang lebih gemilang dan bebas dari beban masa lalu.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah