Sekolah Digital dan Privasi yang Tidak Pernah Benar-Benar Sunyi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Digitalisasi pendidikan sering dipuji sebagai jalan keluar dari kerumitan layanan konvensional. Proses administrasi menjadi lebih ringkas dan komunikasi terasa lebih terbuka. Sistem digital menciptakan kesan keterhubungan yang nyaris tanpa batas. Dalam ruang virtual ini, data bergerak tanpa suara, tersimpan tanpa terlihat. Kemudahan tersebut menumbuhkan rasa nyaman yang perlahan menjadi kebiasaan. Namun di balik kenyamanan itu, privasi justru semakin sering terpinggirkan. Data hidup di ruang yang tidak pernah benar-benar sunyi.
Setiap interaksi digital meninggalkan rekam jejak yang terus bertambah. Jejak ini membentuk gambaran rinci tentang individu dan aktivitasnya. Tanpa pengamanan yang ketat, rekam jejak tersebut mudah diakses oleh pihak yang tidak berkepentingan. Ancaman tidak selalu berupa serangan besar. Kebocoran kecil pun dapat menimbulkan dampak yang luas. Privasi tergerus sedikit demi sedikit.
Di media sosial, diskusi tentang privasi kerap muncul dalam bentuk sindiran dan humor. Konten viral menyoroti betapa mudahnya data dilacak hanya dari aktivitas sederhana. Fenomena ini mencerminkan kecemasan kolektif yang semakin menguat. Banyak yang mulai menyadari bahwa data tidak pernah benar-benar hilang. Sekali tercatat, ia dapat muncul kembali dalam konteks yang tak terduga.
Keamanan data sering dipahami sebagai persoalan teknis yang rumit. Padahal esensinya adalah menjaga batas antara yang publik dan yang pribadi. Tanpa batas yang jelas, data menjadi komoditas yang mudah diperdagangkan. Pendidikan digital membawa tanggung jawab besar dalam menjaga batas tersebut. Kepercayaan pengguna bergantung pada perlindungan privasi yang konsisten. Tanpa kepercayaan, sistem kehilangan legitimasi.
Kemudahan layanan sering kali menuntut keterbukaan informasi. Namun keterbukaan tanpa kontrol justru berbahaya. Setiap sistem perlu memiliki mekanisme perlindungan yang adaptif. Ancaman terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Tanpa pembaruan berkelanjutan, sistem akan tertinggal. Privasi menjadi korban pertama.
Dalam praktik sehari-hari, kesadaran tentang privasi masih belum merata. Banyak pengguna menganggap data sebagai sesuatu yang sepele. Padahal data mencerminkan identitas dan sejarah personal. Ketika identitas terekspos, dampaknya tidak hanya digital. Rasa aman dan kepercayaan ikut terguncang.
Digitalisasi sekolah seharusnya tidak hanya mengejar kemudahan layanan. Ia juga perlu menciptakan ruang aman bagi data dan privasi. Teknologi yang bijak adalah teknologi yang menghormati batas. Tanpa itu, kemajuan berubah menjadi ancaman yang sunyi. Di sanalah refleksi tentang digitalisasi menemukan urgensinya.
Penulis: Resinta Aini Z.