Seni dan Budaya: Jembatan Moral Penyatukan Polarisasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kekuatan
ekspresi seni dan warisan budaya mulai dimanfaatkan secara masif oleh berbagai
sekolah dasar di Jakarta sebagai instrumen pendidikan moral yang efektif untuk
mencairkan ketegangan akibat polarisasi sosial global tahun ini. Melalui
kegiatan tari tradisional, musik nusantara, dan teater rakyat, siswa diajak
untuk mengenal akar budaya yang beragam namun sebenarnya memiliki esensi nilai
kemanusiaan universal yang serupa satu sama lain. Seni dipandang sebagai bahasa
universal yang mampu melampaui batas-batas politik, ekonomi, dan ideologi yang
sering kali memecah belah, memberikan ruang kreatif bagi siswa untuk
berkolaborasi dalam keindahan daripada terjebak dalam pertikaian opini yang
tidak produktif.
Dalam perspektif
pendidikan karakter, keterlibatan aktif anak dalam aktivitas seni dapat
memperhalus perasaan, meningkatkan rasa estetika, serta memperluas cakrawala pemikiran
mereka secara emosional. Seni mengajarkan siswa untuk menghargai sebuah proses
yang panjang, harmoni dalam perbedaan, dan keindahan kolektif yang tidak
mungkin dapat dicapai jika dilakukan sendirian tanpa bantuan orang lain di
dalam tim. Data empiris menunjukkan bahwa sekolah-sekolah dengan program seni
budaya yang kuat memiliki tingkat konflik interpersonal antar-siswa yang jauh
lebih rendah dibandingkan sekolah yang hanya fokus pada pencapaian akademik
yang kaku. Pendidikan moral melalui seni adalah cara yang halus namun sangat
efektif untuk melunakkan hati yang mulai terpapar kerasnya narasi polarisasi
dari luar lingkungan sekolah.
Kegiatan seni budaya di
sekolah kini tidak lagi hanya bersifat hafalan gerakan atau nada, tetapi juga
dibarengi dengan diskusi mengenai filosofi di balik karya seni tersebut yang
menjunjung tinggi kebersamaan. Siswa diajarkan bahwa sebuah tarian kelompok
hanya akan terlihat indah jika semua penarinya saling menyelaraskan gerak,
sebuah metafora yang sangat kuat untuk menjelaskan pentingnya toleransi dalam
masyarakat yang majemuk. Pengalaman emosional saat berada di atas panggung
bersama teman-teman yang berbeda latar belakang menciptakan ikatan batin yang
sulit diputuskan oleh provokasi politik di kemudian hari. Seni menjadi ruang di
mana identitas semu luruh dan berganti dengan identitas baru sebagai sesama
seniman muda yang ingin memberikan karya terbaik bagi dunia.
Seni juga menjadi media
bagi siswa untuk mengekspresikan harapan mereka akan dunia yang damai dan tidak
terpecah-belah melalui karya lukis atau tulisan kreatif. Melalui pameran karya
siswa, sekolah memberikan platform bagi anak-anak untuk menyuarakan kritik
sosial terhadap polarisasi dengan cara yang sopan, simbolis, dan sangat
menyentuh nurani orang dewasa. Hal ini melatih keberanian berpendapat secara
etis, sebuah kualitas moral yang sangat penting agar siswa tidak hanya menjadi
pengikut arus informasi, tetapi menjadi pencipta narasi perdamaian mereka
sendiri. Pendidikan moral berbasis seni memberikan "kekuatan lembut"
(soft power) pada siswa untuk menjadi agen perubahan sosial melalui
estetika dan kreativitas yang mereka miliki.
Pemanfaatan budaya lokal
sebagai basis pendidikan moral juga memperkuat rasa bangga akan jati diri
bangsa di tengah gempuran budaya global yang sering kali membawa nilai-nilai
individualisme atau persaingan yang tidak sehat. Dengan mendalami kearifan lokal
seperti konsep "gotong royong" atau "tepa selira" melalui
drama sekolah, siswa belajar bahwa budaya mereka memiliki solusi asli terhadap
tantangan polarisasi modern. Pengetahuan budaya ini menjadi jangkar moral yang
menjaga siswa agar tetap berpijak pada nilai-nilai ketimuran yang santun dan
menghargai harmoni sosial di atas ego pribadi. Sekolah menjadi benteng
kelestarian budaya sekaligus laboratorium karakter yang relevan dengan
kebutuhan zaman yang semakin terdisrupsi.
Keberhasilan program seni
budaya ini juga didorong oleh kolaborasi dengan para seniman lokal dan pegiat
budaya yang diundang untuk mengajar dan berbagi inspirasi langsung kepada siswa
di sekolah. Interaksi dengan tokoh budaya memberikan pandangan baru bagi siswa
bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari materi, melainkan dari seberapa besar
manfaat karya kita dalam menyatukan hati orang banyak. Siswa belajar tentang
dedikasi, kerendahan hati, dan ketulusan dalam berkarya, nilai-nilai moral yang
sangat dibutuhkan untuk melawan budaya instan dan konsumtif yang sering kali
memicu kecemburuan sosial. Pendidikan moral melalui seni adalah sebuah
perjalanan menemukan keindahan di dalam diri sendiri dan orang lain.
Sebagai kesimpulan, seni
dan budaya adalah jembatan moral yang paling alami dan kokoh untuk menyatukan
kembali kepingan-kepingan masyarakat yang terbelah akibat polarisasi global.
Kita sedang menanamkan benih-benih harmoni di dalam hati generasi muda agar
mereka tidak hanya tumbuh menjadi orang cerdas, tetapi juga orang yang peka
terhadap keindahan persaudaraan. Jangan biarkan kebisingan politik dunia
menutupi suara merdu lagu-lagu persatuan yang sedang dinyanyikan oleh anak-anak
kita di bangku sekolah dasar. Dengan memperkuat pendidikan moral berbasis seni,
kita sedang memastikan bahwa masa depan Indonesia akan selalu berwarna-warni
dalam keharmonisan dan tetap indah dalam keberagaman yang rukun.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah