Simulasi Moral Digital: Pemanfaatan ChatGPT untuk Pendidikan Karakter Anti-Perundungan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id , Surabaya — Pendidikan karakter, khususnya pencegahan perundungan ( bullying ), menjadi fokus utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif (SDG 4 dan 16). Terobosan baru muncul dengan memanfaatkan kecerdasan buatan ChatGPT sebagai media simulasi kasus moral di kelas. Guru dapat menggunakan teknologi ini untuk menciptakan skenario percakapan fiktif yang menggambarkan situasi dilematis antara pelaku, korban, dan saksi perundungan. Melalui simulasi teks yang interaktif ini, siswa diajak untuk menganalisis perasaan setiap karakter dan memikirkan solusi damai tanpa harus melibatkan risiko emosional nyata yang mungkin terjadi dalam role-play konvensional.
Dalam prosesnya, guru dapat meminta ChatGPT untuk menyajikan cerita tentang seorang anak yang dikucilkan, lalu meminta siswa memberikan tanggapan atau saran kepada karakter dalam cerita tersebut. AI kemudian akan merespons balik berdasarkan masukan siswa, menampilkan konsekuensi dari setiap tindakan atau ucapan yang dipilih. Metode ini melatih empati siswa secara mendalam, karena mereka dapat melihat secara langsung bagaimana kata-kata yang baik dapat menyembuhkan, dan kata-kata kasar dapat melukai. Dialog digital ini menjadi ruang refleksi yang aman bagi siswa untuk memancarkan perilaku mereka sendiri.
Pemanfaatan ChatGPT dalam konteks ini juga membantu guru mengatasi keterbatasan dalam merancang materi bimbingan konseling yang variatif. AI dapat menghasilkan berbagai sudut pandang dan skenario yang kompleks dalam hitungan detik, memberikan banyak materi diskusi yang relevan dengan dinamika pergaulan anak masa kini. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi agar tetap pada koridor nilai-nilai etika dan moral, memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.
Selain itu, pendekatan ini mengajarkan siswa tentang etika digital dan kewargaan siber ( kewarganegaraan digital ). Dengan berinteraksi bersama AI tentang topik sensitif, siswa belajar cara berkomunikasi yang sopan, menghargai privasi, dan berpikir kritis sebelum merespons. Mereka memahami bahwa di balik layar pun, interaksi harus didasari oleh rasa hormat. Hal ini sangat penting mengingat perundungan siber ( cyberbullying ) menjadi ancaman nyata bagi generasi digital native .
Kesimpulannya, ChatGPT dapat dialihfungsikan dari sekadar alat bantu akademik menjadi instrumen pendidikan karakter yang kuat . Melalui simulasi moral yang interaktif, sekolah dasar dapat menanamkan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan empati dengan cara yang modern dan relevan bagi siswa. Inovasi ini mendukung terciptanya generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan integritas moral yang tinggi.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia