Sinergi Keterampilan Berbahasa Asing dan Penguatan Karakter Nasionalisme dalam Menghadapi Arus Globalisasi di Lingkungan Sekolah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Membangun sinergi antara keterampilan berbahasa asing dan penguatan karakter nasionalisme merupakan langkah strategis bagi sekolah dasar dalam menghadapi arus globalisasi yang kian kencang. Bahasa Inggris tidak boleh dipandang sebagai ancaman yang akan menggerus kecintaan terhadap tanah air, melainkan sebagai sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia internasional. Di lingkungan sekolah, integrasi ini dapat diwujudkan melalui kurikulum yang menyajikan materi bahasa asing dengan tetap mengusung konteks nilai luhur Pancasila. Siswa diajarkan untuk berkomunikasi secara global namun tetap memiliki sikap santun dan rendah hati yang mencerminkan jati diri bangsa Timur yang beradab. Sinergi ini bertujuan agar siswa tidak hanya fasih berbicara dalam bahasa internasional, tetapi juga bangga membawa identitas nasionalnya di setiap forum komunikasi. Dengan demikian, penguasaan bahasa asing justru menjadi instrumen untuk memperkuat posisi tawar bangsa dalam pergaulan dunia yang semakin kompetitif dan dinamis.
Proses pendidikan di sekolah dasar harus mampu menyaring pengaruh budaya luar yang masuk melalui media bahasa asing agar tidak merusak moralitas peserta didik. Guru berperan sebagai filter ideologis yang memberikan pemahaman kritis mengenai perbedaan nilai antara budaya global dan kearifan lokal yang harus tetap dipertahankan. Setiap kosakata atau ungkapan bahasa Inggris yang dipelajari siswa perlu dikaitkan dengan makna etis yang selaras dengan kepribadian bangsa Indonesia yang agung. Pembelajaran yang berintegritas ini memastikan bahwa siswa tidak mengalami alienasi budaya atau merasa asing di tengah masyarakatnya sendiri akibat paparan bahasa asing yang masif. Penguatan karakter nasionalisme dilakukan dengan cara menunjukkan bahwa penguasaan bahasa dunia adalah jalan untuk mengharumkan nama bangsa di panggung internasional secara terhormat. Sekolah harus menjadi laboratorium karakter di mana siswa belajar menjadi warga dunia yang tetap teguh memegang akar tradisi nusantara yang sangat kaya.
Implementasi sinergi ini juga memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh ekosistem sekolah melalui berbagai kegiatan kokurikuler yang inovatif dan kreatif bagi seluruh siswa. Misalnya, program pekan bahasa dapat dirancang dengan menampilkan pertunjukan seni tradisional yang dipandu atau dijelaskan menggunakan bahasa Inggris yang sederhana dan komunikatif. Aktivitas semacam ini akan meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk berbicara di depan umum sekaligus memperdalam pemahaman mereka terhadap sejarah dan budaya lokal. Pendidikan dasar memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa kecerdasan intelektual dalam berbahasa asing berjalan beriringan dengan kematangan afektif yang mencintai tanah air. Siswa dilatih untuk menggunakan kemampuan linguistiknya guna membela kepentingan nasional dan mempromosikan perdamaian dunia berdasarkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Keselarasan antara nalar global dan rasa nasional akan melahirkan generasi yang mandiri dalam berpikir namun tetap bersatu dalam semangat kebangsaan Indonesia.
Tantangan dalam menciptakan sinergi ini sering kali berkaitan dengan ketersediaan bahan ajar yang masih didominasi oleh literatur asing yang kurang memiliki nilai-nilai lokalitas. Oleh karena itu, para akademisi dan praktisi pendidikan di tingkat sekolah dasar perlu berkolaborasi untuk memproduksi modul ajar bahasa Inggris yang bermuatan karakter nasionalis. Bahan ajar yang inklusif akan membantu siswa melihat bahwa bahasa asing adalah jendela pengetahuan yang tidak mencerabut mereka dari realitas sosial di lingkungan sekitarnya. Pemerintah perlu memberikan dukungan penuh melalui kebijakan yang menjamin bahwa kurikulum bahasa asing tetap berada dalam koridor penguatan identitas nasional yang kokoh dan berkelanjutan. Penilaian hasil belajar pun harus mencakup aspek sikap yang mencerminkan nasionalisme siswa saat mereka mempraktikkan keterampilan berbahasa asing di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Kerja sama yang baik antara pemangku kebijakan dan pelaksana di lapangan akan menjamin efektivitas program ini dalam jangka panjang bagi kemajuan peradaban bangsa.
Sebagai simpulan, sinergi antara bahasa asing dan nasionalisme adalah kunci utama dalam mencetak generasi emas yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan penuh martabat. Kita harus meyakini bahwa kemampuan multibahasa akan menjadi modal sosial yang luar biasa bagi kemajuan bangsa Indonesia di kancah internasional yang serba digital. Pendidikan dasar adalah masa yang paling menentukan untuk meletakkan batu pertama pembangunan karakter yang berwawasan luas namun tetap mencintai akar budayanya sendiri. Mari kita terus berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang mencerahkan, di mana bahasa asing dipelajari untuk memperluas cakrawala berpikir tanpa kehilangan jati diri yang mulia. Setiap langkah kecil dalam memperkuat nasionalisme melalui jalur bahasa adalah kemenangan bagi masa depan kedaulatan bangsa Indonesia tercinta di mata dunia internasional. Dengan semangat dedikasi yang tinggi, kita pasti mampu mewujudkan cita-cita luhur bangsa untuk melahirkan pemimpin dunia yang tetap sujud di hadapan bumi pertiwi.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti