Storytelling di Kelas: Saat Dongeng Menjadi Alat Didik
s2dikdas.fip.unesa.ac.id SURABAYA— Di
sebuah ruang kelas sekolah dasar, suasana belajar tampak berbeda dari biasanya.
Seorang guru berdiri di depan kelas, bukan dengan papan tulis atau lembar soal,
melainkan dengan ekspresi wajah yang penuh semangat dan suara yang
berubah-ubah. Ia sedang mendongeng. Para siswa duduk tenang, mata mereka
tertuju pada guru, tenggelam dalam alur cerita yang dibawakan. Itulah gambaran
nyata bagaimana "storytelling kini kembali dihidupkan sebagai metode
pembelajaran yang bermakna".
Dalam beberapa tahun terakhir,
berbagai sekolah di Indonesia mulai menerapkan pendekatan mendongeng di ruang
kelas. Kegiatan ini dilakukan tidak hanya untuk menghibur, tetapi sebagai
strategi untuk menyampaikan pelajaran secara lebih efektif dan menyenangkan.
Storytelling memungkinkan anak-anak memahami nilai moral, memperluas kosa kata,
melatih daya imajinasi, hingga mengembangkan empati.
Metode ini diyakini mampu
menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berpusat pada siswa. Tidak
hanya guru yang berbicara, tapi cerita yang disampaikan membuka ruang dialog,
tanya jawab, bahkan diskusi nilai. Sebagai contoh, dongeng tentang persahabatan
antar makhluk hutan bisa mengajarkan siswa tentang kerja sama, toleransi, dan
kepedulian terhadap lingkungan.
Penerapan storytelling di kelas juga
tidak terbatas pada pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam mata pelajaran lain
seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, atau bahkan IPA, pendekatan
naratif bisa digunakan untuk menjelaskan konsep yang sulit dengan cara yang
lebih mudah dipahami siswa. Melalui cerita, siswa bisa belajar tentang
keberanian, kejujuran, hingga proses ilmiah dengan cara yang menghibur namun
tetap edukatif.
Para ahli pendidikan menyebut
storytelling sebagai bentuk pembelajaran yang menyentuh sisi afektif peserta
didik. Saat anak mendengar cerita, mereka tidak hanya menerima informasi,
tetapi juga membangun koneksi emosional dengan tokoh atau pesan dalam cerita
tersebut. Hal ini membuat materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan
dicerna.
Di tengah derasnya arus teknologi dan
gaya belajar serba cepat, storytelling menjadi semacam ‘ruang hening’ yang
memperlambat ritme agar anak-anak dapat kembali belajar dengan rasa. Sebab
pendidikan sejatinya bukan hanya tentang penguasaan materi, tetapi juga tentang
membangun karakter dan nilai hidup. Storytelling di kelas bukan sekadar
aktivitas menyenangkan, melainkan sebuah strategi pendidikan yang menghubungkan
hati, pikiran, dan tindakan. Ketika dongeng menjadi alat didik, sekolah bukan
lagi hanya tempat belajar, tapi juga tempat bertumbuh dalam makna.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Google