Tantangan Menumbuhkan Minat Baca Serius di Era Distraksi Digital dan Budaya Instan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menumbuhkan minat baca
serius di tengah gempuran distraksi digital merupakan salah satu tantangan
pedagogis terbesar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di abad ke-21. Budaya
instan yang dipromosikan oleh teknologi digital telah merusak kesabaran
kognitif siswa dalam menyelesaikan bacaan-bacaan yang membutuhkan konsentrasi
tinggi dan waktu yang lama. Membaca serius bukan hanya sekadar memahami makna
harfiah, melainkan melibatkan proses evaluasi, kritik, dan refleksi yang
mendalam terhadap setiap argumen penulis. Namun, kehadiran media sosial dengan
notifikasi yang terus-menerus memutus aliran pemikiran dan menghambat
terciptanya kondisi fokus yang mendalam bagi para pembaca. Generasi yang tumbuh
dalam ekosistem serba cepat cenderung menghindari teks-teks filosofis atau
ilmiah yang dianggap terlalu berat bagi kapasitas perhatian mereka. Realitas
ini menuntut adanya rekayasa budaya baru yang mampu menempatkan kembali membaca
sebagai kegiatan utama yang prestisius di kalangan pemuda.
Minat baca yang serius memerlukan
lingkungan yang tenang dan mendukung, hal yang semakin sulit ditemukan di dunia
yang senantiasa terkoneksi secara daring. Distraksi digital tidak hanya datang
dari aplikasi hiburan, tetapi juga dari dorongan untuk terus-menerus mengecek
informasi terbaru yang bersifat sekilas dan tidak mendalam. Kondisi psikologis
yang selalu merasa kekurangan informasi atau fear of missing out membuat
individu sulit untuk menenangkan diri di hadapan sebuah buku. Budaya instan
kemudian memperparah situasi ini dengan menawarkan ringkasan-ringkasan pendek
yang sering kali menghilangkan nuansa serta konteks asli dari sebuah gagasan
besar. Padahal, kebijaksanaan tidak dapat diperoleh melalui ringkasan,
melainkan melalui proses pergulatan intelektual yang panjang dan penuh dengan
ketelitian analisis. Tanpa minat baca yang serius, masyarakat kita akan mudah terombang-ambing
oleh sentimen dangkal yang dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan tertentu
di ruang publik digital.
Pendidikan tinggi memegang peran
krusial dalam melawan arus budaya instan dengan tetap mempertahankan standar
akademik yang menuntut pembacaan sumber-sumber primer secara utuh. Mahasiswa
tidak boleh dibiarkan hanya mengandalkan mesin pencari untuk menyelesaikan
tugas-tugas ilmiah yang sebenarnya memerlukan studi pustaka yang mendalam dan
sistematis. Dosen harus mampu mendesain tugas yang memotivasi mahasiswa untuk
kembali ke perpustakaan dan berinteraksi langsung dengan pemikiran-pemikiran
besar dalam sejarah manusia. Literasi akademik yang kuat akan membentuk
karakter mahasiswa yang disiplin, teliti, serta memiliki integritas intelektual
yang tidak mudah goyah oleh tren sesaat. Melalui proses membaca yang serius,
seseorang belajar untuk menghargai proses berpikir orang lain serta melatih
kemampuan empati intelektual yang sangat berharga. Inilah inti dari pendidikan
yang memanusiakan manusia, yakni kemampuan untuk berpikir secara bebas dan
mendalam di tengah tekanan digital.
Selain peran institusi, gerakan
literasi berbasis komunitas juga perlu diperkuat untuk menciptakan ekosistem
membaca yang lebih organik dan inklusif bagi semua orang. Klub-klub buku yang
mengadakan pertemuan rutin untuk mendiskusikan satu karya sastra atau pemikiran
tokoh dapat menjadi sarana efektif untuk membangun minat baca. Dalam komunitas
tersebut, terjadi pertukaran ide yang mampu memperkaya pemahaman individu
terhadap teks yang sedang dibahas secara kolektif dan mendalam. Literasi tidak
boleh lagi dianggap sebagai tugas sekolah yang membosankan, melainkan sebagai
gaya hidup yang memberikan nilai tambah bagi kualitas kehidupan seseorang.
Promosi mengenai manfaat kesehatan mental dari membaca serius, seperti
mengurangi stres dan meningkatkan fokus, juga perlu dilakukan secara lebih
gencar lagi. Dengan cara ini, masyarakat akan melihat membaca sebagai kebutuhan
primer untuk menjaga keseimbangan jiwa di tengah dunia yang semakin bising.
Pada akhirnya, tantangan menumbuhkan
minat baca serius adalah perjuangan untuk mempertahankan kualitas peradaban
manusia dari ancaman pendangkalan nalar akibat teknologi. Kita tidak dapat
menghindari kemajuan teknologi, namun kita dapat memilih untuk tetap menjadi
tuan atas perangkat yang kita gunakan sehari-hari secara bijak. Minat baca yang
kuat akan melahirkan individu-individu yang memiliki visi jauh ke depan serta
mampu memberikan solusi bagi berbagai permasalahan bangsa. Pemerintah harus
terus mendukung ekosistem perbukuan nasional agar buku-buku bermutu tetap
terjangkau dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Jika
setiap individu memiliki kesadaran untuk meluangkan waktu setidaknya satu jam
sehari untuk membaca serius, maka transformasi besar akan terjadi. Masa depan
bangsa ini tidak hanya terletak pada kecanggihan infrastrukturnya, tetapi pada
kedalaman pemikiran dan keluasan wawasan yang dimiliki oleh seluruh rakyatnya.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.