AI Bukan Musuh, Tapi Guru Gaptek Adalah Target: Revolusi Kelas di Era Mendikdasmen
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menegaskan dalam forum nasional
pekan ini bahwa meskipun Kecerdasan Buatan (AI) tidak akan pernah bisa
menggantikan empati dan sentuhan manusiawi seorang guru, para pendidik yang
menolak beradaptasi dengan teknologi dipastikan akan tergilas oleh roda zaman.
Di hadapan ribuan kepala sekolah dasar, ditekankan bahwa AI harus dipandang
sebagai asisten cerdas yang mampu mempersonalisasi materi ajar untuk siswa SD,
namun kendali utama tetap berada di tangan guru yang literat digital. Fenomena
ini menandai berakhirnya era pengajaran konvensional yang kaku dan dimulainya
babak baru di mana teknologi menjadi syarat mutlak profesionalisme guru.
Data menunjukkan bahwa
efisiensi administratif guru dapat meningkat hingga 40% jika mereka mampu
memanfaatkan generative AI untuk menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang variatif. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih
banyak guru SD di daerah yang mengalami kegagapan teknologi (gaptek), yang
berdampak pada rendahnya kualitas interaksi digital di ruang kelas. Sudut
pandang akademik menekankan bahwa ancaman nyata bukan datang dari kecanggihan
mesin, melainkan dari stagnasi kompetensi manusia yang enggan memperbarui
metodologi pengajarannya sesuai tuntutan Generasi Alpha.
Transformasi ini memaksa
guru untuk beralih peran dari sekadar pemberi informasi menjadi fasilitator dan
mentor kognitif yang kritis. Guru yang mahir menggunakan AI dapat menciptakan
simulasi interaktif yang membuat materi sulit, seperti sains dan matematika,
menjadi lebih hidup bagi siswa sekolah dasar. Sebaliknya, mereka yang bertahan
dengan cara-cara lama akan semakin kehilangan relevansi di hadapan siswa yang
sudah terpapar teknologi sejak usia dini. Digitalisasi pendidikan bukan lagi
sebuah pilihan, melainkan instruksi negara untuk memastikan standar kualitas
pengajaran yang setara di seluruh pelosok negeri.
Ketidaksiapan guru dalam
menjinakkan AI juga berisiko pada penyebaran informasi yang tidak akurat kepada
siswa, mengingat AI memerlukan supervisi manusia untuk memverifikasi kebenaran
kontennya. Mendikdasmen menggarisbawahi bahwa investasi pada infrastruktur
digital harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas guru secara masif agar
tidak terjadi "gegar budaya" teknologi. Fokus utama saat ini adalah
memastikan bahwa setiap guru SD memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan
teknologi dalam pedagogi mereka tanpa kehilangan esensi pendidikan karakter.
Secara strategis,
pemerintah kini mulai menyusun standar kompetensi baru yang mewajibkan literasi
AI masuk dalam evaluasi kinerja guru tahunan. Hal ini dilakukan untuk memacu
semangat belajar mandiri di kalangan pendidik agar tidak tertinggal oleh kecepatan
inovasi global. Guru yang mampu bersimbiosis dengan AI terbukti mampu
memberikan perhatian lebih pada aspek emosional dan moral siswa, karena
tugas-tugas rutin yang membosankan telah diambil alih oleh mesin.
Masa depan pendidikan
dasar Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara kemajuan teknologi dan
kesiapan sumber daya manusia. Guru yang literat digital akan menjadi pahlawan
yang membawa siswa SD menuju puncak peradaban, sementara yang gaptek akan tereliminasi
secara alami oleh tuntutan zaman yang kian kompetitif. Sudah saatnya setiap
ruang kelas di Indonesia menjadi laboratorium inovasi di mana guru dan
teknologi bekerja sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh dan
berkelanjutan.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah