AI dan Krisis Integritas: Transformasi SD Menjadi Benteng Karakter
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Maraknya isu
penggunaan AI untuk memanipulasi tugas sekolah mendorong sejumlah sekolah dasar
di Surabaya melakukan transformasi kurikulum dengan menekankan penguatan
karakter sebagai pilar utama pendidikan. Sekolah-sekolah ini menyadari bahwa
kehadiran AI adalah ujian nyata bagi sistem pendidikan nasional untuk
membuktikan apakah nilai-nilai moral yang diajarkan selama ini benar-benar
terhujam di hati siswa atau sekadar hafalan formalitas. Transformasi ini
mencakup penyederhanaan beban akademik yang sering memicu stres, serta
peningkatan aktivitas reflektif harian. Tujuannya jelas: membangun benteng
karakter yang kokoh agar siswa tidak merasa perlu mencari jalan pintas yang
tidak etis melalui bantuan kecerdasan buatan.
Integritas belajar sering
kali menjadi rapuh ketika tuntutan akademik dirasakan terlalu berat dan
kompetisi nilai berubah menjadi lingkungan yang toksik, yang memicu siswa
mencari segala cara untuk bertahan. Oleh karena itu, menjadikan AI sebagai
cermin integritas berarti sekolah harus memiliki keberanian untuk menurunkan
ego nilai angka dan lebih menghargai kemurnian niat belajar serta kejujuran
anak dalam berproses. Pendidikan dasar di era disrupsi ini harus lebih fokus
pada pembentukan "hati yang jujur" daripada sekadar "otak yang
penuh dengan data", karena data kini sudah bisa dikelola oleh mesin dengan
jauh lebih efisien. Benteng karakter yang paling kuat adalah lingkungan sekolah
yang memberikan rasa aman bagi siswa untuk mengakui kekurangan mereka.
Dalam kurikulum baru ini,
setiap sesi pelajaran diakhiri dengan "Momen Kejujuran", di mana
siswa didorong untuk merefleksikan sejauh mana mereka benar-benar memahami
materi dan bantuan apa yang mereka gunakan. Jika seorang siswa mengakui menggunakan
AI untuk membantu memahami sebuah konsep, guru tidak akan memberikan hukuman,
melainkan bantuan tambahan untuk memastikan pemahaman tersebut benar-benar
meresap. Pergeseran dari budaya menghukum ke budaya membimbing ini secara
signifikan meningkatkan tingkat kejujuran siswa di sekolah-sekolah di Makassar.
Siswa merasa bahwa kejujuran dihargai lebih tinggi daripada kesempurnaan palsu,
sebuah pelajaran hidup yang akan membekas sepanjang hayat mereka.
Dampak dari transformasi
ini terlihat pada meningkatnya rasa saling percaya antara guru dan siswa, di
mana AI kini digunakan secara terbuka dalam diskusi kelas untuk memperkaya
perspektif bersama. Guru tidak lagi berperan sebagai "polisi plagiarisme"
yang skeptis, melainkan sebagai mentor karakter yang menginspirasi siswa untuk
bangga pada hasil karya orisinal mereka sendiri, sekecil apa pun kemajuannya.
Fakta menunjukkan bahwa di lingkungan yang menghargai integritas secara nyata,
siswa justru merasa malu jika harus menggunakan teknologi tanpa transparansi
kepada gurunya. Integritas belajar telah bertransformasi menjadi sebuah budaya
yang hidup, bukan sekadar spanduk formalitas yang terpasang di koridor-koridor
gelap sekolah dasar.
Selain itu, sekolah juga
melibatkan tokoh masyarakat dan agama untuk memberikan pemahaman bahwa
kejujuran intelektual adalah bagian dari perintah moral yang bersifat universal
dan sakral. Dengan mengaitkan integritas belajar dengan nilai-nilai spiritualitas,
benteng karakter siswa menjadi lebih berlapis dan tidak mudah ditembus oleh
godaan kemalasan digital. Siswa diajarkan bahwa ilmu yang didapat dengan cara
yang tidak jujur tidak akan membawa berkah dan kemanfaatan bagi kehidupan
mereka di masa depan. Pendekatan holistik ini menjadikan pendidikan di Makassar
sebagai contoh nyata bagaimana sebuah krisis teknologi dapat dikonversi menjadi
peluang penguatan moral bangsa yang sangat berharga.
Tantangan yang tersisa
adalah memastikan bahwa orang tua di rumah tidak merusak benteng karakter ini
dengan memberikan akses gawai tanpa pengawasan moral yang memadai. Oleh karena
itu, sekolah secara rutin membagikan panduan etika digital bagi keluarga agar
ada keselarasan nilai antara apa yang diajarkan di kelas dan apa yang
dipraktikkan di meja makan. Kerja sama yang erat ini memastikan bahwa anak
tidak mendapatkan pesan yang membingungkan tentang apa yang dianggap
"boleh" dan "tidak boleh" dalam menggunakan teknologi.
Integritas belajar harus menjadi napas bersama yang dihirup oleh anak di mana
pun mereka berada, baik di dalam maupun di luar pagar sekolah.
Sebagai penutup, krisis
integritas di era AI sebenarnya adalah peluang emas bagi sekolah dasar untuk
kembali ke hakikat pendidikan yang sesungguhnya: membangun manusia yang beradab
dan jujur. AI bukan musuh yang perlu ditakuti dengan pelarangan kaku, melainkan
tantangan yang memaksa kita untuk memperkuat integritas belajar siswa sejak
usia yang paling dini. Mari kita terus jadikan sekolah dasar sebagai benteng
karakter yang kokoh, tempat di mana kejujuran dijunjung sebagai mahkota
tertinggi bagi setiap pembelajar sejati. Dengan integritas yang tertanam kuat,
generasi masa depan Indonesia tidak akan pernah kehilangan jati diri meski
hidup berdampingan dengan teknologi yang kian cerdas dan kompleks.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah