AI sebagai Tutor Bayangan: Di Antara Teman Belajar dan Penentu Jawaban
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pagi hari kini tidak selalu dimulai dengan buku tulis dan pensil yang rapi di meja belajar, karena di sudut layar gawai sering kali sudah menunggu sebuah kolom percakapan. Di sanalah kecerdasan buatan hadir, bukan sebagai guru yang berdiri di depan kelas, melainkan sebagai tutor bayangan yang setia menemani. Ia menjawab dengan cepat, sabar, dan tanpa ekspresi lelah, seolah waktu tidak pernah menjadi batas. Banyak orang dewasa melihatnya sebagai alat bantu, sementara anak-anak memandangnya seperti teman yang selalu tahu jawaban. Dari sinilah muncul pertanyaan yang pelan tapi mendesak, apakah bantuan ini benar-benar mendidik atau justru memanjakan. Pertanyaan itu tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari perubahan kebiasaan belajar yang semakin terasa. Dunia belajar anak kini bergerak di antara buku cetak dan layar bercahaya.
Di rumah-rumah, suasana belajar perlahan berubah tanpa disadari. Anak tidak lagi hanya bertanya kepada orang tua atau kakak, tetapi juga kepada sistem digital yang merespons dalam hitungan detik. Kalimat yang diketik dengan ejaan seadanya tetap dibalas dengan jawaban rapi dan runtut. Proses mencoba, salah, lalu memperbaiki kadang terasa terpotong karena solusi muncul terlalu cepat. Di satu sisi, rasa percaya diri anak bisa tumbuh karena ia tidak dibiarkan lama dalam kebingungan. Namun di sisi lain, kesempatan untuk bergulat dengan kesulitan menjadi lebih singkat. Kesulitan yang seharusnya membentuk daya tahan belajar justru dilompati. Di titik inilah batas antara membantu dan memanjakan mulai kabur.
Media sosial mempercepat normalisasi fenomena ini dengan cara yang halus. Video pendek di TikTok menampilkan anak yang tersenyum bangga karena tugasnya selesai berkat bantuan AI. Kolom komentar penuh dengan pujian atas kecerdikan, bukan atas proses berpikir yang dilalui. Konten semacam ini menyebar cepat dan membentuk anggapan bahwa hasil adalah segalanya. Padahal belajar bukan hanya tentang sampai di tujuan, melainkan tentang perjalanan yang ditempuh. Ketika perjalanan dipersingkat secara ekstrem, ada nilai yang ikut terpangkas. Nilai itu adalah kesabaran, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba. Hal-hal kecil yang sering luput dari sorotan layar.
Dalam praktik sehari-hari, AI sering berperan seperti peta yang langsung menunjukkan rute tercepat. Anak tidak perlu lagi membaca petunjuk panjang atau menebak-nebak langkah berikutnya. Jawaban tersedia, penjelasan ada, bahkan contoh bisa langsung disalin. Situasi ini memang menghemat waktu, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan pendampingan belajar. Namun efisiensi tidak selalu sejalan dengan pendalaman. Ketika semua terasa mudah, belajar bisa kehilangan tantangannya. Tantangan yang justru menjadi bahan bakar perkembangan kognitif. Tanpa disadari, rasa puas datang terlalu cepat.
Di sisi lain, menutup mata terhadap manfaat AI juga tidak adil. Bagi anak yang kesulitan memahami penjelasan tertentu, kehadiran tutor bayangan bisa menjadi jembatan. Ia bisa menjelaskan ulang dengan gaya berbeda tanpa rasa menghakimi. Anak yang pemalu untuk bertanya kepada orang dewasa merasa lebih berani mencoba. Rasa aman ini penting dalam dunia belajar yang sering kali menekan. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat penguat, bukan pengganti. Namun peran ini membutuhkan batas yang jelas.
Kunci persoalan terletak pada bagaimana AI digunakan, bukan sekadar pada keberadaannya. Jika ia dijadikan sumber jawaban akhir, maka proses belajar berhenti terlalu dini. Jika ia diposisikan sebagai teman diskusi, maka berpikir tetap berjalan. Anak perlu diajak memahami bahwa bertanya bukan berarti menyerahkan sepenuhnya. Ada proses memilah, membandingkan, dan menyimpulkan yang tidak boleh dilewati. Di sinilah peran orang dewasa menjadi penting sebagai penyeimbang. Bukan untuk melarang, tetapi untuk mengarahkan.
Pada akhirnya, tutor bayangan ini adalah cermin dari cara kita memandang belajar. Apakah belajar hanya tentang menyelesaikan tugas, atau tentang membentuk cara berpikir yang tahan uji. AI bisa menjadi lentera yang menerangi jalan, tetapi tidak seharusnya menggantikan langkah kaki. Anak tetap perlu merasakan lelahnya berpikir dan manisnya menemukan jawaban sendiri. Di antara membantu dan memanjakan, ada garis tipis yang harus dijaga bersama. Garis itu bukan soal teknologi, melainkan soal nilai.
Penulis: Resinta Aini Z.