Al Bukan Ancaman Bagi Pendidikan, Melainkan Cermin Integritas Perilaku Belajar Kita
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Istilah “al” dalam konteks pendidikan sering kali dikaitkan dengan praktik yang tidak diinginkan, membuat banyak pihak melihatnya sebagai ancaman yang dapat merusak sistem pendidikan secara keseluruhan. Padahal, jika kita melihat lebih dalam, “al” pada dasarnya adalah fenomena yang muncul sebagai akibat dari kondisi dan sikap yang ada di dalam lingkungan belajar. Ia tidak datang sebagai sesuatu yang berdiri sendiri untuk menggangu pendidikan, melainkan sebagai cermin yang jelas menunjukkan bagaimana perilaku belajar kita dan sejauh mana kita menjaga integritas dalam setiap aktivitas akademik.
Lingkungan belajar yang tidak mendukung, tekanan untuk mencapai hasil yang tinggi secara tidak wajar, atau kurangnya pemahaman tentang nilai kejujuran akademik adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya praktik yang berkaitan dengan “al”. Ketika siswa merasa bahwa mereka tidak memiliki dukungan yang cukup untuk mengikuti proses belajar dengan baik, atau ketika sistem penilaian terasa tidak adil, beberapa di antaranya mungkin mencari jalan pintas yang dianggap lebih mudah. Namun, hal ini bukanlah alasan yang sah untuk meninggalkan integritas, karena setiap pilihan yang kita buat dalam proses belajar akan mencerminkan karakter dan nilai yang kita anut.
Ketika “al” muncul di lingkungan sekolah, hal itu sebenarnya memberikan sinyal bahwa ada aspek dalam sistem pendidikan atau perilaku belajar yang perlu diperbaiki. Misalnya, jika banyak siswa yang melakukan kejadian dalam ujian, hal ini bisa menjadi cermin bahwa metode pengajaran tidak efektif, atau bahwa siswa tidak mendapatkan pemahaman yang cukup tentang materi pelajaran. Di sisi lain, jika sekolah mampu menangani kasus-kasus tersebut dengan tegas namun adil, dan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya integritas, maka “al” justru menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai positif dalam pendidikan.
Peran guru dan pendidik sangat krusial dalam mengubah perspektif tentang “al” dari ancaman menjadi cermin integritas. Guru yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, mendukung, dan menghargai kejujuran akan membantu siswa memahami bahwa keberhasilan akademik yang diperoleh dengan cara yang benar jauh lebih berharga daripada hasil yang dicapai melalui cara yang salah. Dengan memberikan contoh yang baik dan mengajarkan nilai-nilai integritas secara konsisten, pendidik dapat membantu siswa melihat bahwa setiap tindakan dalam belajar adalah refleksi dari diri mereka sendiri.
Pendidikan mempunyai tujuan yang lebih luas dari sekedar mencapai nilai tinggi atau mendapatkan gelar. Ia bertujuan untuk membentuk pribadi yang memiliki integritas, mampu berpikir kritis, dan bertanggung jawab. “Al” sebagai bagian dari realitas yang mungkin dihadapi dalam pendidikan harus dilihat bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan, melainkan sebagai cermin yang membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih jelas. Dengan demikian, kita dapat terus meningkatkan perilaku belajar dan menjaga integritas yang menjadi dasar bagi kesuksesan yang sebenarnya dalam hidup.
###
Penulis : Ailsa Widya Imamatuzzadah