Analisis Risiko Tanam: Matematika SD Memetakan Data Cuaca untuk Pertanian Berkelanjutan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan matematika di sekolah dasar dapat dihubungkan secara erat dengan isu global SDG 13 (Aksi Iklim) melalui proyek analisis data cuaca historis. Siswa diajarkan untuk mengumpulkan data suhu rata-rata, curah hujan bulanan, atau frekuensi badai yang terjadi selama beberapa tahun terakhir di daerah mereka. Data ini kemudian diolah menggunakan konsep statistik sederhana yang dipelajari di kelas matematika SD (seperti rata-rata, modus, dan presentase) untuk memetakan potensi risiko pertanian di masa depan.
Proyek ini menugaskan siswa untuk mengubah angka-angka mentah dari data cuaca menjadi representasi visual seperti grafik garis atau diagram batang. Melalui visualisasi ini, mereka mulai mengidentifikasi pola-pola iklim yang tidak teratur, misalnya, peningkatan suhu ekstrem di bulan tertentu atau pergeseran musim hujan. Analisis ini mengajarkan konsep probabilitas dan risiko dalam konteks nyata: "Berapa persen kemungkinan musim kemarau tahun depan akan lebih panjang dari rata-rata lima tahun terakhir?"
Penggunaan data cuaca dalam pelajaran matematika ini memberikan makna yang mendalam pada konsep abstrak statistik. Siswa tidak hanya menghitung angka untuk mendapatkan nilai, tetapi mereka menghitung untuk memecahkan masalah dunia nyata, yaitu adaptasi terhadap perubahan iklim. Guru memfasilitasi diskusi tentang bagaimana petani lokal dapat menggunakan analisis data ini untuk mengambil keputusan strategis, misalnya memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan atau menjadwalkan panen lebih awal.
Aktivitas ini secara signifikan meningkatkan literasi data siswa. Mereka belajar cara menafsirkan tren, mengidentifikasi anomali, dan menyajikan kesimpulan secara jelas. Pemahaman matematis mereka menjadi alat untuk memahami tantangan lingkungan dan menyarankan solusi yang berbasis angka dan logika, sebuah keterampilan krusial untuk para ilmuwan, ekonom, dan perencana masa depan.
Secara keseluruhan, menghubungkan matematika SD dengan data cuaca adalah inovasi kurikulum yang transformatif. Siswa SD tidak hanya menguasai rumus hitungan, tetapi juga memiliki kesadaran iklim yang tinggi dan kemampuan analitis untuk mendukung pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian iklim.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia