Antara Lingua Franca dan Jati Diri: Dilema Bahasa Inggris di Kelas Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Keputusan
mewajibkan Bahasa Inggris di SD menempatkan dunia pendidikan kita pada
persimpangan jalan antara tuntutan modernitas dan pelestarian identitas budaya.
Pemerintah memandang bahasa asing sebagai alat pertahanan ekonomi agar generasi
mendatang mampu bersaing di pasar tenaga kerja internasional. Namun, pertanyaan
fundamental muncul: apakah penguatan bahasa asing ini akan menjadi pelengkap
jati diri nasional atau justru perlahan-lahan mengikis kecintaan siswa terhadap
bahasa ibunya sendiri?
Fakta di lapangan
menunjukkan tren penggunaan bahasa hibrida yang semakin lazim, di mana generasi
muda seringkali lebih fasih menggunakan istilah asing daripada padanan katanya
dalam bahasa Indonesia. Analisis sosiologis memperingatkan bahwa tanpa benteng
karakter yang kuat, Bahasa Inggris di SD bisa memicu alienasi budaya di mana
anak-anak merasa bahasa asalnya "kurang bergengsi." Pemerintah harus
menjamin bahwa kurikulum ini tetap berbasis konteks lokal agar siswa mampu
menjelaskan budaya nusantara ke dunia luar.
Dari perspektif pedagogi,
pengajaran bahasa asing di tingkat dasar memerlukan pendekatan "Bahasa
Inggris sebagai Alat," bukan materi hafalan yang membosankan. Siswa harus
diajak memahami bahwa bahasa adalah jembatan komunikasi, bukan indikator kasta
sosial atau kecerdasan mutlak. Tantangan utamanya terletak pada penyusunan
materi yang tidak bersifat kebarat-baratan sepenuhnya, melainkan tetap
menggunakan narasi nusantara sebagai basis latihan bercerita maupun menulis.
Banyak praktisi
pendidikan mendesak agar penguatan Bahasa Indonesia tidak dikendorkan di tengah
euforia globalisasi ini. Seharusnya, pengenalan bahasa asing berfungsi sebagai
pendamping yang memperluas cakrawala, bukan substitusi yang menggeser prioritas
literasi ibu pertiwi. Jika porsi ini tidak seimbang, kita berisiko mencetak
generasi yang mampu berkomunikasi dengan dunia luar namun justru merasa asing
dan tidak nyambung dengan akar budayanya sendiri di rumah.
Keberhasilan kebijakan
ini akan menjadi ujian bagi sistem pendidikan kita dalam meramu
"nasionalisme global." Kebijakan ini harus mampu melahirkan lulusan
yang berotak internasional namun tetap berhati Indonesia. Hanya dengan
keseimbangan yang tepat, Bahasa Inggris wajib di SD akan menjadi aset berharga
bagi masa depan bangsa, bukan ancaman bagi identitas kolektif yang telah kita
bangun sejak lama.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah