Antara Retorika Inklusif dan Pengalaman Nyata
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Retorika inklusif kerap memenuhi ruang diskusi pendidikan. Kata inklusi diulang sebagai simbol kepedulian dan kemajuan. Dalam pidato dan dokumen, inklusivitas tampak meyakinkan. Namun pengalaman nyata di lapangan sering menghadirkan cerita berbeda. Banyak individu masih merasa terpinggirkan. Retorika tidak selalu sejalan dengan praktik. Ketegangan ini menciptakan jarak emosional. Inklusi terasa jauh dari pengalaman sehari hari. Kondisi ini menuntut kejujuran dalam menilai praktik yang ada.
Pengalaman nyata menunjukkan bahwa inklusi sering berhenti pada tataran bahasa. Istilah digunakan tanpa perubahan perilaku. Relasi yang timpang tetap bertahan. Inklusi menjadi hiasan narasi. Realitas belum sepenuhnya berubah.
Perbedaan kebutuhan individu sering tidak diterjemahkan menjadi pendekatan yang adaptif. Praktik masih berorientasi pada kenyamanan mayoritas. Mereka yang berbeda harus menyesuaikan diri. Pengalaman ini menimbulkan rasa tidak diakui. Inklusi kehilangan esensi penerimaan.
Selain itu, kurangnya ruang dialog memperparah jarak ini. Pengalaman lapangan jarang diangkat sebagai bahan refleksi. Tanpa mendengar suara yang terdampak, inklusi berjalan satu arah. Retorika terus diproduksi tanpa koreksi. Praktik menjadi stagnan.
Ketegangan antara retorika dan pengalaman nyata juga memunculkan kelelahan psikologis. Individu yang terlibat merasa terjebak dalam sistem yang tidak sensitif. Inklusi dipersepsikan sebagai tuntutan, bukan nilai. Hal ini menghambat keterlibatan tulus.
Menjembatani jarak ini memerlukan keberanian untuk mendengar. Pengalaman nyata harus diakui sebagai sumber pengetahuan. Inklusi perlu dibangun dari bawah. Bukan sekadar diturunkan sebagai kebijakan.
Ketika pengalaman nyata menjadi pusat refleksi, retorika inklusif dapat menemukan maknanya. Inklusi tidak lagi sekadar kata. Ia menjadi praktik hidup yang dirasakan bersama.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah