Baca Label Makanan Asing: Google Translate Bantu Siswa SD Pahami Istilah Gizi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam pelajaran tematik bermuatan "Makanan Sehat" atau pada mata pelajaran Bahasa Inggris, siswa SD sering kali menemukan kemasan makanan ringan favorit mereka yang informasi gizinya bertuliskan bahasa asing. Untuk mendukung pemahaman kesehatan (SDG 3) dan konsumsi yang bertanggung jawab (SDG 12), guru dapat mengajarkan siswa cara menggunakan fitur kamera instan pada aplikasi Google Translate untuk menerjemahkan komposisi bahan makanan tersebut secara langsung. Aktivitas ini dirancang sangat realistis, praktis, dan seru bagi anak-anak karena mereka merasa seperti detektif sains yang sedang memecahkan kode rahasia bahasa asing untuk menemukan informasi tersembunyi.
Dalam praktik pembelajarannya, siswa diminta membawa satu bungkus makanan ringan atau minuman kemasan dari rumah. Di dalam kelas, dengan bimbingan guru dan menggunakan fasilitas tablet sekolah (atau ponsel guru yang digunakan secara bergantian dalam kelompok), siswa memindai teks "Ingredients" atau "Nutrition Facts" yang ada di kemasan. Teknologi Google Translate akan langsung mengubah teks asing tersebut ke dalam Bahasa Indonesia di layar perangkat secara real-time. Siswa kemudian bisa mendapatkan pemahaman baru, misalnya, "Oh, ternyata sugar itu artinya gula," atau "artificial flavor itu maksudnya perasa buatan," dan "preservatives adalah bahan pengawet.".
Kegiatan eksplorasi ini sangat efektif melatih kewaspadaan dan kesadaran kritis siswa terhadap apa yang mereka konsumsi sehari-hari. Setelah mengetahui terjemahan bahan-bahannya, guru dapat memberikan penjelasan sederhana mengenai mana bahan yang baik untuk tubuh dan mana yang konsumsinya harus dibatasi agar tetap sehat. Siswa menjadi paham bahwa tidak semua makanan kemasan yang terlihat menarik itu sehat. Penggunaan teknologi penerjemah membuat pelajaran gizi yang biasanya membosankan dan penuh istilah sulit menjadi pengalaman belajar yang interaktif, visual, dan melekat kuat di ingatan siswa.
Selain aspek kesehatan, tentu saja kegiatan ini secara signifikan meningkatkan perbendaharaan kosakata Bahasa Inggris siswa secara kontekstual. Mereka belajar kata-kata baru yang langsung berhubungan dengan benda nyata yang mereka pegang dan konsumsi. Metode belajar bahasa yang berbasis objek nyata (realia) ini jauh lebih efektif daripada sekadar menghafal daftar kata dari kamus. Siswa juga belajar bahwa Google Translate adalah alat bantu belajar yang sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari, bukan hanya aplikasi untuk mengerjakan PR bahasa asing.
Melalui praktik sederhana namun bermakna ini, teknologi penerjemah berfungsi sebagai jembatan bagi siswa untuk tumbuh menjadi konsumen yang cerdas dan sadar kesehatan. Mereka dibekali kemampuan dasar untuk menyeleksi makanan dan membaca informasi produk, sebuah langkah awal yang sangat penting untuk membangun gaya hidup sehat jangka panjang dan mencegah penyakit di masa depan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia