Beban Tas Berkurang, Beban Kognitif Bertambah? Dilema Paradoks Sekolah Dasar Modern
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tujuan utama dari kebijakan penghapusan buku tulis di tingkat sekolah dasar sering kali bermuara pada aspek efisiensi fisik, yakni upaya untuk meringankan beban tas siswa yang selama ini dianggap terlalu berat serta memangkas biaya pengadaan kertas secara masif dalam jangka panjang. Namun, realitas sosiologis dan psikologis di lapangan menunjukkan bahwa ketika beban fisik di pundak siswa berkurang, beban kognitif mereka justru mengalami peningkatan yang signifikan akibat paparan digital distraction yang sulit dihindari pada perangkat tablet.
Saat seorang anak tidak lagi memiliki keterikatan fisik secara langsung dengan catatan di buku tulis mereka, muncul kecenderungan psikologis untuk memandang informasi sebagai sesuatu yang bersifat "sekali pakai" atau sangat mudah untuk dicari kembali di mesin pencari. Fenomena yang dikenal sebagai Google Effect ini menyebabkan otak siswa secara tidak sadar melepaskan tanggung jawab untuk menyimpan informasi, karena mereka merasa data tersebut selalu tersedia di ujung jari tanpa perlu diusahakan melalui proses penulisan manual.
Fakta empiris yang ditemukan di beberapa sekolah dasar di wilayah urban menunjukkan bahwa tanpa keberadaan buku tulis sebagai jangkar organisasi, alur berpikir siswa cenderung menjadi lebih acak dan kurang terstruktur dibandingkan saat mereka menggunakan media kertas. Menulis di buku memberikan batasan spasial yang memaksa otak untuk merencanakan tata letak dan hierarki informasi, sebuah proses manajemen mental yang sangat krusial bagi perkembangan kemampuan eksekutif pada anak-anak usia dini.
Para pakar pendidikan mulai mempertanyakan apakah kesehatan tulang punggung anak akibat beban tas yang ringan benar-benar lebih berharga daripada ketajaman kognitif dan ketahanan mental mereka dalam menghadapi proses belajar yang menuntut konsentrasi tinggi. Sering kali, kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital justru membuat siswa menjadi lebih rentan terhadap kebosanan dan kehilangan minat ketika dihadapkan pada materi yang membutuhkan analisis mendalam dan refleksi yang tenang.
Selain itu, penggunaan perangkat digital secara terus-menerus di ruang kelas menciptakan lingkungan belajar yang sangat stimulan, yang pada titik tertentu dapat menyebabkan kelelahan mental atau digital fatigue pada anak-anak yang sistem sarafnya masih dalam tahap perkembangan. Buku tulis, di sisi lain, menawarkan lingkungan belajar yang lebih tenang dan minim distraksi, memungkinkan siswa untuk benar-benar terhubung dengan ide-ide yang sedang mereka pelajari tanpa interupsi notifikasi atau godaan fitur hiburan lainnya.
Oleh karena itu, kebijakan sekolah tanpa kertas seharusnya tidak dipandang sebagai solusi tunggal bagi masalah kesehatan fisik siswa, melainkan harus dikaji ulang dari perspektif efektivitas pedagogis jangka panjang yang lebih luas. Kita harus waspada agar keinginan untuk terlihat modern dan efisien tidak justru menciptakan generasi yang kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir secara mendalam akibat ketergantungan pada alat bantu eksternal.
Sebagai langkah solutif, sekolah perlu mempertimbangkan jalan tengah yang memungkinkan siswa tetap membawa buku tulis untuk mata pelajaran inti yang membutuhkan pemahaman konsep yang kuat, sementara teknologi digunakan untuk eksplorasi multimedia. Hanya dengan menjaga keseimbangan antara kenyamanan fisik dan kesehatan kognitif inilah, pendidikan dasar kita dapat benar-benar menghasilkan lulusan yang tangguh baik secara raga maupun secara intelektual di masa depan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah