Belajar Budaya Dunia: Optimalisasi Aplikasi Translate dalam Pembelajaran Interkultural di Kelas Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Siswa sekolah dasar mengikuti pembelajaran lintas budaya menggunakan
aplikasi translate. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan keragaman budaya dunia
secara sederhana dan menarik.
Pembelajaran
ini dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris dan IPS yang terintegrasi.
Guru memperkenalkan teks pendek mengenai tradisi, makanan, dan kebiasaan dari
beberapa negara. Siswa kemudian diminta menerjemahkan bagian teks tertentu
menggunakan aplikasi translate, lalu membandingkan hasilnya dengan panduan
guru. Dengan cara tersebut, siswa belajar bahwa terjemahan kata perlu
disesuaikan dengan budaya dan konteks.
Selama
kegiatan, siswa tampak antusias ketika menemukan kosakata baru yang berbeda
makna saat diterapkan dalam situasi budaya lain. Misalnya, kata “greeting” yang
tidak hanya berarti “sapaan”, tetapi juga mencerminkan cara menghormati orang
lain dalam suatu masyarakat. Siswa juga berdiskusi mengenai keberagaman
kebiasaan, seperti cara makan, cara menyapa, hingga perayaan hari besar di
berbagai negara.
Guru
menilai kegiatan ini sebagai langkah penting dalam mengembangkan intercultural
awareness atau kesadaran lintas budaya sejak dini. Melalui penggunaan
aplikasi translate, siswa tidak hanya mempelajari arti kata, tetapi juga
memahami bahwa bahasa dan budaya saling berkaitan. Proses ini membantu siswa
melihat dunia lebih luas, tanpa merasa canggung terhadap perbedaan.
Selain
itu, pembelajaran ini turut meningkatkan kemampuan kolaboratif dan berpikir
kritis. Siswa bekerja dalam kelompok untuk mengklarifikasi terjemahan yang
kurang tepat, serta mempresentasikan pemahaman budaya yang mereka pelajari di
depan kelas. Guru memberikan umpan balik yang menekankan sikap saling
menghargai perbedaan.
Melalui
kegiatan ini, diharapkan pembelajaran lintas budaya terus dikembangkan dengan
sumber belajar yang lebih variatif dan kontekstual. Dengan memanfaatkan
teknologi secara tepat, siswa dapat tumbuh sebagai generasi yang terbuka,
toleran, dan memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia. Pembelajaran bahasa di
masa depan diharapkan tidak hanya mengajarkan struktur kalimat, tetapi juga
membangun jembatan pemahaman antarbudaya.
###
Penulis: Sevian Ageng
Wahono
Dokumentasi: Freepik