Belajar dari Alam: Ketika Hutan dan Taman Jadi Guru
S2dikdas.fip.unesa.ac.id.
SURABAYA— Di sebuah pagi yang cerah di puluhan sekolah dasar, siswa terlihat
sibuk mengamati daun, mencatat bentuk serangga, dan menggambar pohon-pohon
besar yang menaungi mereka. Mereka bukan sedang bermain biasa, tapi sedang
belajar—belajar langsung dari alam. Bukan di dalam kelas dengan papan tulis dan
buku paket, tapi di taman kota dan hutan edukatif yang berubah menjadi ruang
kelas terbuka.
Kegiatan ini menjadi bagian dari
program pembelajaran luar ruang yang kini mulai diterapkan di beberapa sekolah,
terutama yang mendukung Kurikulum Merdeka. Guru-guru mengajak siswanya keluar,
mengenalkan mereka pada lingkungan sekitar secara langsung, sekaligus
menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap alam. Di tengah dominasi layar dan
gadget, kegiatan ini menghadirkan kembali nuansa pendidikan yang menyentuh
indera dan emosi.
Salah satu sekolah yang aktif
menerapkan konsep ini adalah Tadika Mesra. Dalam kunjungannya ke Taman Edukasi
Lingkungan “Hijau Ceria”, siswa diajak menulis jurnal alam, menghitung jumlah
jenis daun yang ditemukan, hingga mencatat suhu dan arah angin dengan alat
sederhana. Mereka belajar sambil bergerak, mengamati, dan berinteraksi langsung
dengan benda hidup yang ada di sekitarnya.
Guru dan fasilitator lingkungan yang
mendampingi menjelaskan bahwa metode ini sangat efektif dalam meningkatkan
kepekaan siswa. Anak-anak menjadi lebih bertanya, lebih berani menyampaikan
pendapat, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih tinggi dibandingkan saat
belajar di dalam kelas. Bahkan siswa yang biasanya pasif mulai aktif
menunjukkan ketertarikan.
Pembelajaran seperti ini tidak hanya
melatih kemampuan kognitif, tapi juga membentuk karakter. Siswa diajak menjaga
kebersihan, tidak merusak tanaman, dan bekerjasama dalam kelompok kecil.
Nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab, dan empati terhadap makhluk
hidup tertanam secara alami, tanpa harus diajarkan secara teoritis. Melibatkan
alam sebagai media belajar menjadi bentuk pendidikan kontekstual yang tidak
hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna. Apalagi di era Kurikulum Merdeka,
pengalaman langsung dan proyek berbasis lingkungan menjadi bagian penting dalam
proses pembelajaran. Taman, hutan, bahkan halaman sekolah bisa menjadi sumber
ilmu yang kaya, selama ada kemauan untuk mengelolanya.
Pembelajaran seperti ini menunjukkan
bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu, dan kelas bukan satu-satunya ruang
belajar. Alam pun bisa menjadi guru yang bijak—memberikan pelajaran dengan cara
yang lembut, mendalam, dan tak terlupakan. Ketika anak-anak belajar dari alam,
mereka tak hanya memahami lingkungan, tetapi juga belajar tentang kehidupan.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Google