Belajar dari Langit: Siswa Sekolah Dasar Kenali Cuaca demi Bumi yang Lebih Lestari
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Cuaca adalah salah satu fenomena alam yang paling sering ditemui
siswa dalam kehidupan setiap harinya. Mulai dari teriknya matahari saat
berangkat sekolah hingga turunnya hujan ketika jam pulang, perubahan cuaca
menjadi bagian yang akrab dalam keseharian siswa. Di sekolah dasar,
pembelajaran tentang cuaca tidak hanya dimaksudkan untuk mengenalkan istilah
seperti panas, berawan, dan hujan, tetapi juga untuk menumbuhkan pemahaman
tentang bagaimana perubahan kondisi atmosfer dapat memengaruhi kehidupan
manusia dan lingkungan. Melalui pembelajaran ini, siswa diperkenalkan pada
pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap Sustainable
Development Goals (SDGs) nomor 13, yaitu Penanganan
Perubahan Iklim. Dengan cara ini, pendidikan di tingkat dasar tidak
hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai
kepedulian lingkungan sejak dini.
Guru memiliki peran sentral dalam mengemas
pembelajaran cuaca menjadi pengalaman yang bermakna dan menyenangkan. Melalui
kegiatan observasi sederhana, siswa diajak untuk mencatat kondisi langit setiap
pagi, mengukur suhu dengan termometer, dan mendiskusikan hasil pengamatan
mereka. Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan sains, tetapi juga
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu terhadap fenomena di
sekitar. Dalam proses ini, siswa belajar mengaitkan hasil pengamatan dengan
kegiatan manusia dalam keseharian, seperti mengapa petani perlu memperhatikan
pola hujan atau bagaimana perubahan musim memengaruhi tanaman. Pembelajaran
kontekstual semacam ini membantu siswa memahami bahwa cuaca bukan sekadar topik
pelajaran, melainkan realitas yang berdampak langsung pada kehidupan
masyarakat.
Lebih jauh lagi, guru dapat memperluas
pembelajaran dengan menghubungkan topik cuaca pada isu global seperti perubahan
iklim. Siswa diajak menonton video singkat atau membaca artikel ringan tentang
pemanasan global dan efek rumah kaca. Diskusi yang muncul dari kegiatan
tersebut akan membuka wawasan siswa bahwa tindakan manusia, seperti penggunaan
bahan bakar fosil berlebihan atau pembakaran sampah, berkontribusi terhadap
naiknya suhu bumi. Guru kemudian membantu siswa menyadari bahwa kegiatan kecil
seperti menanam pohon, menggunakan air secara hemat, dan mengurangi penggunaan
plastik sekali pakai memiliki dampak besar terhadap bumi. Dengan pendekatan
seperti ini, pembelajaran tidak hanya mencetak siswa cerdas pengetahuan, tetapi
juga berkarakter peduli lingkungan.
Selain observasi dan diskusi, kegiatan reflektif
seperti menulis jurnal cuaca harian juga dapat menjadi bagian penting dari
proses pembelajaran. Siswa dapat menulis catatan tentang cuaca hari itu,
perasaan mereka terhadap perubahan yang terjadi, dan langkah sederhana apa yang
bisa mereka lakukan untuk menjaga lingkungan. Aktivitas ini menumbuhkan
kesadaran personal dan emosional terhadap kondisi alam. Di sisi lain, kegiatan
ini melatih literasi sains sekaligus literasi bahasa secara bersamaan. Guru
dapat menilai bagaimana siswa mengaitkan fenomena yang mereka amati dengan
konsep-konsep ilmiah, serta bagaimana mereka mengekspresikan gagasan tentang
tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dengan menerapkan pembelajaran cuaca secara
kontekstual dan interaktif, sekolah dasar berperan penting dalam mencetak
generasi muda yang sadar lingkungan. Siswa belajar bahwa menjaga bumi bukanlah
tugas orang dewasa semata, melainkan tanggung jawab bersama. Pembelajaran
semacam ini menanamkan pola pikir berkelanjutan yang akan terus melekat hingga
mereka dewasa. Dengan demikian, pendidikan tentang cuaca tidak hanya menjadi
bagian dari kurikulum sains, tetapi juga jembatan menuju masa depan yang lebih
hijau, berkelanjutan, dan penuh kesadaran ekologis sesuai semangat SDGs.
###
Penulis: Putri Arina
Hidayati
Dokumentasi: Google_IDN
Times