Belajar Memprediksi Cuaca Besok, Siswa SD Latih Literasi Sains dan Bahasa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru mengintegrasikan pembelajaran sains dan bahasa dengan mengajak siswa mempelajari prediksi “cuaca besok” dari beberapa negara. Melalui pendekatan lintas disiplin ini, siswa tidak hanya memahami konsep ilmiah tentang cuaca, tetapi juga memperluas pengetahuan bahasa melalui istilah-istilah yang muncul dalam laporan cuaca internasional. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat literasi global dan mendukung SDGs nomor 4 yang menekankan pentingnya keterampilan abad ke-21 dalam pendidikan.
Pembelajaran dimulai ketika guru menampilkan prakiraan cuaca besok dari situs internasional yang memperlihatkan beberapa kota dari benua berbeda. Siswa diminta mencatat istilah bahasa asing yang muncul, seperti temperature, humidity, wind speed, snow showers, atau partly cloudy. Kegiatan ini membantu siswa memahami bahwa informasi cuaca di tiap negara dapat ditampilkan dengan gaya bahasa dan istilah yang tidak selalu sama.
Pada kegiatan berikutnya, siswa menggunakan aplikasi digital untuk mencari terjemahan dari istilah yang mereka temukan. Melalui proses ini, mereka belajar bahwa satu fenomena cuaca bisa dijelaskan dengan istilah yang berbeda di berbagai bahasa, bergantung pada struktur, budaya, dan sistem penyajian informasi di negara tersebut. Penggunaan teknologi digital juga membantu siswa berlatih literasi informasi dan memilah makna yang paling relevan dengan konteks.
Dalam kerja kelompok, siswa menyusun laporan singkat mengenai perbandingan prakiraan cuaca besok dari tiga negara pilihan mereka. Laporan tersebut berisi rangkuman kondisi cuaca, istilah yang digunakan, serta perbedaan cara penyajiannya. Setiap kelompok kemudian membacakan hasil analisis di depan kelas. Kegiatan ini melatih kemampuan berbicara, berpikir kritis, dan kerja sama.
Melalui sesi refleksi, siswa mengungkapkan bahwa mempelajari cuaca besok dari berbagai negara membuat mereka lebih memahami bagaimana informasi global disajikan dalam format yang berbeda. Mereka juga menyadari pentingnya membaca data cuaca secara cermat karena informasi tersebut berpengaruh pada aktivitas sehari-hari. Guru menegaskan kembali bahwa sikap kritis, ketelitian, dan rasa ingin tahu sangat diperlukan agar siswa dapat memahami data internasional secara lebih mendalam dan bertanggung jawab.
###
Penulis: Anisa Rahmawati
Gambar: Pinterest