Belajar Nilai Persaudaraan dari Tradisi Mappalili Bugis: Siswa SD Membuat Infografik di Canva
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Tradisi Mappalili
merupakan salah satu upacara penting masyarakat Bugis yang menandai dimulainya
musim tanam padi. Dalam ritual ini, masyarakat berkumpul, membersihkan alat
pertanian, berdoa, dan bekerja bersama sebagai bentuk harapan agar panen tahun
itu membawa keberkahan. Mappalili bukan sekadar kegiatan adat, tetapi
juga simbol nilai persaudaraan, gotong royong, dan keselarasan manusia dengan
alam. Anak-anak di daerah Bugis tumbuh dengan melihat bagaimana komunitas
terlibat dalam kerja kolektif dan menghormati siklus alam. Nilai-nilai inilah
yang sangat relevan untuk dikenalkan kembali kepada siswa SD, terutama dalam
pendidikan karakter dan pemahaman budaya Nusantara.
Dalam
pembelajaran sekolah dasar, guru dapat memulai dengan mengenalkan makna budaya Mappalili
secara naratif dan visual, sehingga siswa memahami konteks sosial di balik
tradisi tersebut. Penggunaan media digital seperti Canva dapat membantu siswa
mengolah informasi budaya menjadi infografik yang menarik dan mudah dipahami.
Dengan membuat poster tentang tahapan Mappalili, nilai gotong royong,
dan peran masyarakat, siswa belajar mengemas pengetahuan budaya ke dalam format
visual kreatif. Aktivitas ini juga melatih keterampilan literasi digital yang
penting di era sekarang. Selain itu, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena
siswa tidak hanya menerima cerita, tetapi juga mempresentasikannya kembali
dengan cara mereka sendiri.
Penggunaan
Canva dalam kegiatan ini bukan sekadar pemanfaatan teknologi, tetapi juga
bentuk integrasi pendekatan etnopedagogi. Etnopedagogi menekankan bahwa budaya
lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya untuk menanamkan nilai, memperkuat
identitas, dan membangun kepekaan sosial siswa. Dengan memvisualkan Mappalili,
siswa SD tidak hanya memahami langkah-langkah tradisi, tetapi juga mampu
mengidentifikasi nilai moral di dalamnya. Proses ini membantu anak melihat
budaya bukan sebagai materi hafalan, tetapi sebagai bagian hidup masyarakat
yang dapat dipelajari secara kreatif. Hal ini juga membuka ruang bagi siswa
untuk bertanya, berdiskusi, dan mengaitkan budaya dengan pengalaman
sehari-hari.
Dalam
kerangka pembelajaran kontekstual, kegiatan ini memberi kesempatan kepada siswa
untuk menghubungkan tradisi Mappalili dengan kehidupan mereka sekarang.
Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan bagaimana bentuk gotong royong di
lingkungan sekolah atau keluarga, dan bagaimana nilai kebersamaan tetap relevan
meski zaman telah berubah. Canva menjadi alat bantu untuk memvisualisasikan
pemahaman tersebut dalam bentuk poster atau peta konsep, sehingga pembelajaran
tidak berhenti pada teori. Dengan cara ini, siswa belajar mengaitkan budaya
lokal dengan realitas sosial yang mereka alami langsung. Pendekatan kontekstual
membuat siswa lebih mudah menangkap makna dan manfaat pembelajaran.
Pada
akhirnya, proyek infografik Mappalili di SD bukan hanya bertujuan
mengenalkan budaya Bugis, tetapi juga mengembangkan kompetensi abad 21 seperti
kreativitas, kolaborasi, literasi digital, dan kemampuan berpikir reflektif.
Integrasi budaya lokal, Canva sebagai media kreatif, etnopedagogi, dan
pembelajaran kontekstual membuat pembelajaran lebih autentik dan menyenangkan.
Siswa tidak hanya mengetahui cerita budaya, tetapi juga belajar menafsirkannya
dan mempresentasikannya kembali dalam bentuk digital. Dengan demikian, sekolah
turut berperan menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus membekali siswa
dengan keterampilan yang relevan untuk masa depan. Pembelajaran seperti ini
membantu anak mencintai budaya bangsanya sambil tetap siap menghadapi dunia modern.
###
Penulis: Arumita Wulan Sari