Berhenti Memuja Kemahiran Gadget Anak dan Mulai Mengajarkan Logika Digital
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Terlalu sering kita memberikan pujian berlebihan kepada anak-anak sekolah dasar hanya karena mereka mampu mengoperasikan gawai dengan sangat mahir melebihi orang dewasa. Sikap memuja kemahiran teknis ini sebenarnya dapat melenakan kita dari tugas utama pendidikan, yaitu menanamkan logika berpikir yang sehat dalam menggunakan teknologi. Kemahiran mengklik tombol dan menggeser layar tidak secara otomatis membuat seorang anak pintar dalam mengelola informasi yang masuk ke nalar mereka. Kita harus mulai mengubah kekaguman tersebut menjadi tindakan nyata untuk mengajarkan bagaimana cara kerja teknologi dan apa risiko di balik penggunaannya. Logika digital adalah fondasi yang jauh lebih penting daripada sekadar keterampilan motorik yang bisa dipelajari secara otodidak oleh siapa pun dengan cepat. Dengan mengajarkan logika, kita sedang memberikan kompas bagi siswa agar mereka tidak tersesat di tengah rimba informasi yang sangat kompleks dan dinamis.
Logika digital melibatkan pemahaman tentang sebab dan akibat dari setiap tindakan yang dilakukan siswa saat mereka sedang berselancar di internet secara mandiri. Guru perlu memberikan simulasi tentang bagaimana sebuah berita bohong dapat tersebar luas hanya karena satu orang mengeklik tombol bagikan tanpa berpikir kritis terlebih dahulu. Siswa harus diajak berdiskusi mengenai alasan mengapa sebuah konten dibuat dan apa dampak yang ingin dicapai oleh pembuatnya terhadap persepsi masyarakat luas. Melalui latihan logika sederhana ini, siswa akan belajar untuk tidak menelan mentah-mentah segala sesuatu yang tampak indah atau provokatif di layar gawai mereka. Kemampuan menganalisis motif di balik informasi akan membentuk karakter siswa yang waspada, jujur, dan tidak mudah terpengaruh oleh arus hoaks yang merusak. Mengajar logika digital berarti memberikan kekuatan kepada siswa untuk menjadi penguasa atas gawai mereka sendiri, bukan sekadar menjadi pengikut tren yang pasif.
Selain aspek analisis pesan, logika digital juga mencakup pemahaman tentang efisiensi dan kreativitas dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik menggunakan bantuan perangkat teknologi cerdas. Siswa perlu diajarkan bahwa gawai adalah alat bantu untuk berpikir lebih luas, bukan alat untuk berhenti berpikir dan hanya mengandalkan hasil pencarian instan. Mengajarkan cara mencari referensi yang akurat dan kredibel adalah bagian penting dalam membangun integritas akademik siswa sejak usia sekolah dasar yang krusial. Guru harus menekankan bahwa orisinalitas dalam berpikir jauh lebih berharga daripada mendapatkan nilai sempurna namun diperoleh dari hasil plagiarisme digital yang tidak jujur. Dengan logika yang kuat, siswa akan mampu menggunakan teknologi untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat bagi kehidupan mereka dan juga masyarakat sekitarnya. Karakter yang berintegritas akan tumbuh subur jika didukung oleh kemampuan nalar yang terlatih untuk selalu menjunjung tinggi kebenaran di atas segalanya.
Sinergi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pembelajaran logika digital ini tidak hanya berhenti di ruang kelas saja melainkan berlanjut di rumah. Orang tua harus berhenti merasa bangga hanya karena anaknya tenang saat memegang HP dan mulai peduli pada apa yang sedang dipikirkan anak saat melihat konten tersebut. Diskusi kecil di meja makan mengenai video yang viral dapat menjadi sarana efektif untuk melatih logika berpikir anak secara santai namun sangat mendalam. Sekolah dapat memberikan pedoman praktis bagi orang tua tentang cara mendampingi anak dalam menggunakan teknologi agar tetap berada pada jalur pendidikan yang benar dan sehat. Budaya literasi yang dibangun secara kolektif akan menciptakan lingkungan yang aman bagi pertumbuhan mental dan intelektual siswa di era transformasi digital. Mari kita sepakat bahwa kecanggihan tangan anak dalam menyentuh layar harus diimbangi dengan kecanggihan otak dalam mengolah pesan moral yang ada.
Sebagai simpulan, berhenti memuja kemahiran gadget dan mulai fokus pada penguatan logika digital adalah kunci keberhasilan pendidikan karakter di sekolah dasar saat ini. Kita harus memastikan bahwa generasi masa depan kita adalah generasi yang cerdas nalar, mulia hati, dan berintegritas tinggi dalam setiap tindakan digitalnya. Teknologi akan terus berkembang dengan sangat cepat, namun nilai-nilai kejujuran dan logika berpikir harus tetap menjadi pilar utama yang tidak boleh goyah sedikit pun. Mari kita bekali anak-anak kita dengan kemampuan untuk melihat dunia digital dengan mata yang kritis dan hati yang penuh dengan rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang tidak hanya pintar teknologi, tetapi juga bijaksana dalam memimpin teknologi tersebut. Semoga setiap langkah kecil kita dalam mengajarkan logika digital hari ini membawa perubahan besar bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan yang gemilang. Kemenangan sejati adalah saat anak didik kita mampu menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran secara terus-menerus sepanjang hayat mereka.
###
Penulis : Indriani Dwi Febrianti