Biaya Tersembunyi Digitalisasi: Beban Baru Sekolah Dasar Marginal
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di balik
narasi modernisasi pendidikan melalui digitalisasi, tersimpan realitas beban
finansial yang menghimpit sekolah-sekolah dasar di wilayah ekonomi lemah.
Sekolah di pusat-pusat kemajuan biasanya didukung oleh komite sekolah yang
mapan dan Dana BOS yang besar, sementara sekolah di desa harus memutar otak
untuk sekadar membayar tagihan listrik yang membengkak akibat penggunaan
perangkat komputer. Disparitas ini menunjukkan bahwa teknologi digital tanpa
dukungan subsidi operasional yang tepat justru bisa menjadi beban yang
melumpuhkan bagi sekolah marginal.
Banyak sekolah di
pedesaan terjebak dalam kondisi "mampu membeli namun tak mampu
memelihara". Perangkat yang rusak sering kali dibiarkan terbengkalai
karena ketersediaan teknisi yang jauh dan biaya suku cadang yang mahal.
Ketidakseimbangan ini menciptakan pemandangan ironis di mana perangkat
teknologi hanya menjadi aset mati yang tidak memberikan nilai tambah pada
proses kognitif siswa.
Secara manajerial,
diperlukan reorientasi penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) agar mencakup biaya
pemeliharaan dan penguatan daya listrik sekolah. Kerja sama dengan pihak swasta
melalui program CSR juga harus diarahkan pada keberlanjutan ekosistem digital,
bukan sekadar pemberian barang sekali pakai. Tanpa jaminan biaya operasional,
digitalisasi pendidikan hanya akan menjadi proyek seremonial yang tidak
menyentuh substansi kebutuhan siswa.
Menutup jurang digital
berarti juga menutup jurang finansial dalam operasional sekolah. Negara harus
hadir dengan skema pembiayaan yang asimetris—memberikan bantuan lebih besar
bagi mereka yang paling jauh dari akses. Hanya dengan cara inilah, teknologi dapat
benar-benar berfungsi sebagai alat pemerataan, bukan justru sebagai alat
penindas baru bagi sekolah yang kekurangan sumber daya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah