Efek "Lumpuh Berpikir": Bahaya Tersembunyi di Balik Kemudahan Navigasi ChatGPT
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Laporan
mengenai menurunnya kemampuan siswa sekolah dasar dalam memecahkan soal cerita
matematika dan analisis bacaan telah menjadi lampu kuning bagi dunia pendidikan
setelah akses terhadap ChatGPT semakin masif. Kondisi yang disebut sebagai
"kelumpuhan berpikir" ini terjadi saat siswa tidak lagi mampu
merumuskan pertanyaan atau mencari solusi secara mandiri karena sudah terlalu
terbiasa disuapi oleh jawaban instan. Fenomena ini sangat memprihatinkan karena
nalar kritis adalah keterampilan hidup paling dasar yang seharusnya diasah
secara maksimal di jenjang pendidikan dasar sebagai modal menghadapi disrupsi
global.
Secara neurobiologis,
ketika otak terus-menerus mengandalkan sumber eksternal untuk menjawab
tantangan, jalur-jalur saraf yang bertanggung jawab untuk kreativitas dan daya
tahan intelektual akan menyusut. Siswa SD yang terbiasa dengan ChatGPT
cenderung memiliki ambang toleransi yang rendah terhadap kesulitan; mereka
ingin segera tahu hasilnya tanpa mau melewati proses frustrasi yang sehat dalam
belajar. Padahal, justru di dalam rasa frustrasi saat mencoba memecahkan soal
itulah, otak sedang melakukan restrukturisasi dan penguatan kemampuan berpikir
kritis.
Sudut pandang kebijakan
pendidikan menyoroti bahwa jika PR tetap diberikan dalam format konvensional
yang bersifat informatif-statis, maka ChatGPT akan selalu menang. Guru harus
beralih peran menjadi "provokator intelektual" yang memberikan pertanyaan-pertanyaan
terbuka yang tidak memiliki jawaban tunggal di internet. Tugas sekolah harus
mampu merangsang siswa untuk melakukan observasi fisik, seperti mengukur luas
halaman rumah atau mewawancarai kakek mereka, yang menuntut kehadiran fisik dan
nalar yang aktif.
Menyelamatkan nalar siswa
berarti memaksa mereka untuk kembali menggunakan "otot" pikirannya
secara mandiri melalui berbagai tantangan nyata. Kita harus berhenti memanjakan
siswa dengan kemudahan yang justru melumpuhkan masa depan mereka sendiri.
Pendidikan adalah tentang memberdayakan manusia, bukan tentang menciptakan
ketergantungan pada mesin; dan perjuangan untuk mengembalikan kemandirian
berpikir ini harus dimulai dari setiap ruang kelas sekolah dasar hari ini juga.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah