Canva Menjadi Cermin Kesadaran Sosial di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Canva kini bukan sekadar aplikasi desain, tetapi telah menjelma menjadi alat reflektif dalam dunia pendidikan dasar. Di tangan guru kreatif, Canva tidak hanya digunakan untuk mempercantik tampilan tugas siswa, tetapi menjadi jembatan antara pembelajaran visual dan kesadaran sosial yang berlandaskan nilai-nilai Sustainable Development Goals (SDGs). Siswa belajar bukan hanya membuat poster menarik, melainkan juga memahami pesan di balik desain mereka, tentang bumi yang semakin panas, ketimpangan sosial, atau pentingnya air bersih bagi kehidupan. Dalam konteks ini, desain menjadi lebih dari sekadar gaya; ia adalah bahasa baru untuk mendidik generasi yang berpikir kritis dan peduli terhadap dunia.
Pembelajaran berbasis Canva mendorong siswa SD untuk memahami isu-isu global melalui konteks lokal. Misalnya, saat membahas tema “Hemat Energi”, siswa tidak hanya menulis slogan, tetapi mendesain poster kampanye hemat listrik di rumah dan sekolah. Aktivitas sederhana ini menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan SDGs poin 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan, di mana setiap individu, termasuk anak-anak berperan dalam menjaga keseimbangan bumi. Lebih dari itu, kegiatan ini menanamkan nilai kolaboratif, karena siswa sering bekerja dalam kelompok untuk menyusun ide dan visualisasi pesan yang ingin disampaikan.
Namun, di balik kreativitas itu, muncul tantangan besar: pendidikan visual kritis. Canva yang serba praktis sering membuat guru dan siswa lebih fokus pada estetika daripada substansi. Banyak siswa membuat karya yang indah, tetapi tidak mampu menjelaskan makna di baliknya. Di sinilah pentingnya peran guru sebagai fasilitator reflektif, yang tidak hanya menilai warna dan tata letak, tetapi juga mengajak siswa berdialog tentang pesan sosial dari karya mereka. Pendekatan seperti ini menjadikan Canva bukan sekadar alat desain, melainkan media pembentukan empati, kesadaran moral, dan tanggung jawab global.
Selain itu, penggunaan Canva menyoroti pentingnya kecakapan digital yang beretika. Siswa harus diajarkan untuk menggunakan gambar, teks, dan elemen visual dengan menghargai hak cipta serta keberagaman budaya. Dalam konteks SDGs, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga kesadaran terhadap keadilan sosial dan representasi visual yang inklusif. Guru perlu memastikan bahwa setiap karya mencerminkan nilai keberagaman dan tidak mengandung bias. Hal ini menjadi langkah kecil namun signifikan dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang lebih adil dan berkelanjutan.
Dengan demikian, Canva dapat menjadi sarana transformatif jika digunakan secara sadar dan reflektif. Di tangan guru visioner, desain digital bukan hanya memperindah tampilan tugas, melainkan memperkuat karakter dan kepedulian sosial siswa. Pembelajaran berbasis Canva menegaskan bahwa pendidikan di sekolah dasar tidak lagi sekadar tentang hafalan dan penilaian angka, melainkan tentang membangun kesadaran manusiawi sejak dini, bahwa setiap warna, bentuk, dan pesan yang mereka hasilkan adalah kontribusi kecil bagi dunia yang lebih baik dan berkelanjutan.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Froyonion.com