Canva untuk Semua: Revolusi Visual Learning yang Mendorong SDGs di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Pemanfaatan Canva dalam pendidikan dasar menghadirkan revolusi pembelajaran visual yang semakin relevan dengan kebutuhan sekolah abad ke-21. Guru-guru sekolah dasar kini dapat merancang materi ajar yang lebih menarik tanpa harus memiliki kompetensi desain grafis tingkat tinggi. Fitur template, ilustrasi, animasi, hingga kolaborasi daring menjadikan Canva alat yang sangat adaptif terhadap dinamika kelas. Penggunaan media visual terbukti meningkatkan retensi informasi siswa SD yang sering belajar melalui gambar dan eksplorasi. Hal ini sejalan dengan prinsip SDGs, khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan inklusif. Dengan menghadirkan visual yang tidak monoton, siswa lebih mudah memahami konten lintas mata pelajaran. Canva, dalam konteks ini, muncul sebagai penggerak transformasi pedagogi yang sangat signifikan.
Dalam praktiknya, Canva memungkinkan guru menyusun bahan ajar tematik berbasis isu global seperti lingkungan, cuaca, dan keberlanjutan yang selaras dengan SDGs. Siswa dapat diajak membuat poster kampanye hemat energi, infografis pengelolaan sampah, atau booklet mini terkait perubahan iklim. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menumbuhkan kecakapan desain sederhana, tetapi juga menguatkan literasi lingkungan sejak dini. Di sisi lain, pembelajaran seperti ini menumbuhkan rasa kepemilikan siswa terhadap masalah global yang selama ini terasa jauh dari kehidupan mereka. Canva menjadi jembatan antara konsep abstrak dan realitas keseharian anak SD. Ketika siswa dapat melihat hubungan visual antara tindakan kecil dan dampak besar, mereka lebih mudah membangun kesadaran kritis. Teknologi ini menjadikan pendidikan dasar lebih berfungsi dalam membangun generasi berkelanjutan.
Dari sisi pedagogi, penggunaan Canva juga memperkuat model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang sangat disarankan dalam kurikulum modern. Guru dapat memberikan proyek desain kampanye sosial berbasis SDGs yang mendorong keterampilan kolaborasi dan komunikasi. Siswa belajar berdiskusi, mengidentifikasi masalah, dan menyusun pesan visual yang tepat sasaran. Proses ini memperkaya kemampuan abad ke-21, termasuk critical thinking dan problem solving. Tidak hanya itu, hasil desain siswa dapat dipublikasikan sebagai pajangan kelas digital untuk memotivasi partisipasi lebih besar. Dengan demikian, Canva memfasilitasi ruang ekspresi kreatif yang selama ini kurang terwadahi dalam pembelajaran konvensional. Pembelajaran pun menjadi jauh lebih hidup dan bermakna.
Walau demikian, terdapat tantangan dalam penerapan Canva pada pendidikan dasar, terutama keterbatasan perangkat dan akses internet di beberapa wilayah. Sekolah-sekolah di daerah terluar mungkin belum memiliki fasilitas TIK memadai untuk menjalankan platform desain daring. Guru juga memerlukan pelatihan khusus agar dapat memanfaatkan fitur Canva secara optimal dan tidak hanya menciptakan desain sederhana tanpa makna pedagogis. Tantangan lainnya adalah bagaimana menjaga agar penggunaan Canva tidak sekadar menjadi aktivitas visual tanpa integrasi konsep yang mendalam. Oleh karena itu, pendampingan profesional perlu dilakukan secara bertahap agar guru mampu memadukan estetika dengan substansi pembelajaran. Tantangan ini penting diperhatikan demi memastikan pemanfaatan teknologi berjalan inklusif. Upaya tersebut akan memperkuat keselarasan antara pendidikan dasar dan agenda SDGs.
Meski menghadapi berbagai tantangan, potensi Canva untuk memperkaya pembelajaran dasar tetap sangat besar. Platform ini membuka peluang bagi guru untuk menjadi lebih kreatif sekaligus strategis dalam menyampaikan materi. Siswa SD memperoleh pengalaman belajar yang lebih relevan dengan dunia visual dan teknologi yang mereka hadapi setiap hari. Dengan integrasi yang tepat, Canva dapat menjadi instrumen berdaya ubah dalam upaya mewujudkan SDGs terutama pada aspek kualitas, pemerataan, dan keberlanjutan pendidikan. Guru, siswa, dan sekolah secara keseluruhan dapat menjadikan Canva sebagai medium transformasi yang mempertemukan kreativitas dan misi global. Pada akhirnya, pendidikan dasar tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga menanamkan kesadaran menjadi warga dunia yang bertanggung jawab. Canva hadir sebagai salah satu motor penggerak perubahan tersebut.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Sumber: Google