Celah Keamanan di Balik Tablet Murah: Dilema Infrastruktur Pendidikan Digital di Daerah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Program pembagian perangkat digital secara massal kepada siswa sekolah dasar di berbagai pelosok Indonesia bertujuan mulia untuk memperkecil jurang literasi teknologi dan memberikan akses informasi yang setara bagi seluruh anak bangsa. Namun, kenyataan pahit di lapangan sering kali menunjukkan bahwa perangkat tablet murah yang disediakan melalui proses pengadaan massal tidak dilengkapi dengan protokol keamanan siber yang mumpuni. Pada awal semester ini saja, muncul berbagai laporan mengenai serangan malware yang menyusup melalui aplikasi belajar pihak ketiga yang tidak terverifikasi, mengancam privasi ruang privat siswa melalui akses kamera dan mikrofon.
Kecepatan pengadaan perangkat keras oleh pemerintah daerah sayangnya sering kali tidak dibarengi dengan penyediaan infrastruktur jaringan yang aman serta edukasi keamanan siber yang memadai bagi para operator sekolah. Tablet-tablet ini sering kali digunakan untuk mengakses jaringan Wi-Fi publik yang tidak terenkripsi, sehingga menjadi sasaran empuk bagi pelaku kejahatan siber untuk mencegat data yang dikirimkan antara perangkat siswa dan peladen sekolah. Lubang keamanan ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan fisik dan psikologis anak-anak yang identitas dan lokasinya dapat dipetakan secara akurat oleh pihak asing.
Selain risiko eksternal, perangkat digital yang tidak dikelola dengan sistem manajemen perangkat seluler (Mobile Device Management) yang ketat memungkinkan siswa untuk mengunduh konten yang tidak pantas atau berbahaya. Tanpa adanya filter konten yang beroperasi di tingkat sistem operasi, tablet pendidikan tersebut justru bisa menjadi pintu masuk bagi paparan radikalisme, kekerasan, maupun pornografi di usia dini. Sekolah sering kali merasa tugas mereka selesai setelah membagikan gawai, padahal tanggung jawab pengawasan digital justru baru dimulai sejak perangkat tersebut dinyalakan untuk pertama kalinya.
Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen perangkat digital di sekolah dasar di daerah belum pernah menerima pembaruan sistem keamanan (security patch) sejak pertama kali didistribusikan. Hal ini menciptakan ekosistem perangkat "zombie" yang sangat rentan terhadap serangan botnet massal yang dapat melumpuhkan jaringan internet sekolah bahkan daerah tersebut secara keseluruhan. Kurangnya tenaga ahli IT di tingkat sekolah dasar membuat pemeliharaan keamanan perangkat menjadi beban yang terbengkalai, sehingga keamanan data siswa pun bergantung sepenuhnya pada keberuntungan semata.
Lebih jauh lagi, penggunaan tablet murah ini sering kali menyisakan masalah privasi pada tingkat perangkat keras, di mana beberapa produsen perangkat diduga menyematkan aplikasi bawaan (bloatware) yang secara diam-diam mengirimkan data pengguna ke peladen di luar negeri. Ini merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan data nasional, di mana informasi mengenai kebiasaan belajar anak-anak Indonesia dieksploitasi oleh kepentingan industri asing tanpa izin. Pemerintah harus lebih selektif dan memberikan syarat teknis yang sangat ketat bagi produsen perangkat agar menjamin transparansi setiap baris kode yang ada di dalam gawai siswa.
Para guru sebagai garda terdepan juga merasa kewalahan karena mereka harus berperan ganda sebagai pendidik sekaligus teknisi IT dadakan yang harus mengurusi berbagai masalah teknis pada perangkat siswa. Beban kerja tambahan ini sering kali membuat guru abai terhadap tanda-tanda serangan siber pada perangkat, sehingga peretasan bisa berlangsung berbulan-bulan tanpa terdeteksi sedikit pun. Pelatihan keamanan siber bagi guru harus dijadikan prioritas nasional yang setara dengan pelatihan pedagogi, agar mereka mampu menjadi benteng pertama dalam melindungi siswa di ruang digital yang penuh risiko.
Sebagai simpulan, digitalisasi sekolah dasar melalui pembagian perangkat massal adalah langkah berani yang membutuhkan dukungan infrastruktur keamanan yang tidak kalah masif. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita belajar di tengah "hutan digital" tanpa dibekali perlindungan yang memadai, baik dari sisi teknologi maupun dari sisi edukasi. Pastikan bahwa setiap tablet yang digenggam oleh siswa sekolah dasar adalah alat yang aman dan teruji, sehingga mimpi besar Indonesia Emas 2045 tidak hancur oleh kegagalan kita dalam menjaga keamanan siber di lingkungan pendidikan saat ini.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah