ChatGPT dan Cuaca: Kolaborasi Teknologi dan Alam untuk Pembelajaran IPAS yang Kontekstual di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT telah membuka peluang baru dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di Sekolah Dasar. Salah satu penerapannya yang menarik adalah menggabungkan kemampuan ChatGPT dengan fenomena cuaca di sekitar siswa. Melalui integrasi ini, guru dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna, sehingga siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembelajaran IPAS, topik cuaca merupakan salah satu materi yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Siswa dapat belajar mengenali perubahan cuaca, memahami faktor-faktor yang memengaruhinya, serta dampaknya terhadap lingkungan dan aktivitas manusia. Dengan bantuan ChatGPT, guru dapat memfasilitasi diskusi interaktif tentang kondisi cuaca harian di daerah siswa, menjawab pertanyaan seputar fenomena alam, atau bahkan membantu merancang eksperimen sederhana untuk mengamati perubahan cuaca secara langsung.
Selain itu, ChatGPT dapat digunakan sebagai mitra belajar yang mendukung kreativitas dan berpikir kritis siswa. Misalnya, siswa dapat berdialog dengan ChatGPT untuk memprediksi cuaca berdasarkan data suhu dan kelembapan yang mereka amati. Dari situ, mereka dapat membandingkan hasil prediksi tersebut dengan prakiraan cuaca aktual dari aplikasi atau situs resmi. Kegiatan semacam ini tidak hanya melatih kemampuan berpikir ilmiah, tetapi juga memperkenalkan anak pada penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Bagi guru, keberadaan ChatGPT juga memberikan kemudahan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran IPAS. Guru dapat meminta bantuan ChatGPT untuk membuat lembar kerja, soal evaluasi, atau ide eksperimen sederhana yang relevan dengan tema cuaca. Selain itu, guru dapat memanfaatkan ChatGPT untuk mendapatkan referensi materi tambahan yang sesuai dengan kurikulum merdeka, sehingga pembelajaran menjadi lebih kaya dan variatif tanpa harus bergantung pada buku teks semata.
Kolaborasi antara ChatGPT dan fenomena cuaca membuktikan bahwa teknologi tidak selalu harus menjauhkan anak dari alam, justru bisa menjadi jembatan untuk mengenal dan memahami alam lebih dalam. Dengan pendekatan ini, pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar menjadi lebih kontekstual, aktif, dan menyenangkan. Melalui sinergi antara kecerdasan buatan dan pengalaman nyata di lingkungan sekitar, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang peka terhadap perubahan alam serta cerdas dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan pembelajaran dan kehidupan.
###
Penulis: Sabila Widyawati