ChatGPT dan Tantangan Etika Penggunaan Teknologi di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Penggunaan teknologi di sekolah dasar tidak lepas dari isu etika. Sebagai guru, saya menyadari pentingnya membimbing siswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. ChatGPT menawarkan kemudahan akses informasi dan ide. Namun, tanpa pendampingan, penggunaannya bisa keliru. Oleh karena itu, literasi etika digital menjadi sangat penting.
ChatGPT dapat diperkenalkan sebagai alat bantu belajar, bukan mesin jawaban. Guru perlu menekankan proses berpikir, bukan hasil instan. Diskusi tentang bagaimana dan kapan menggunakan ChatGPT perlu dilakukan. Anak belajar bahwa teknologi memiliki batasan. Nilai kejujuran dan tanggung jawab tetap utama.
Dari perspektif pedagogis, pendekatan ini mendukung pendidikan karakter. Anak diajak memahami konsekuensi penggunaan teknologi. Guru menjadi teladan dalam penggunaan yang bijak. Pembelajaran tidak hanya kognitif, tetapi juga moral. Inilah pendidikan yang holistik.
Guru juga perlu terus belajar dan beradaptasi. Pemahaman tentang teknologi harus diiringi refleksi etis. ChatGPT tidak boleh menggantikan interaksi manusiawi. Sentuhan empati dan dialog tetap tak tergantikan. Teknologi harus mendukung nilai-nilai pendidikan.
Pada akhirnya, ChatGPT adalah alat yang potensial jika digunakan dengan bijak. Guru memegang peran kunci dalam pengarahannya. Pendidikan dasar harus tetap berlandaskan nilai. Teknologi hadir untuk memperkuat, bukan melemahkan, kemanusiaan dalam pendidikan.
Penulis: Arumita Wulan Sari