ChatGPT Jadi Media Pendukung Literasi Bahasa di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Guru sekolah dasar mulai memanfaatkan ChatGPT sebagai alat bantu pembelajaran bahasa. Melalui fitur ini, siswa memperoleh penjelasan sederhana tentang arti kata, contoh pemakaian, dan variasi struktur kalimat. Selain itu, guru menggunakan ChatGPT untuk menampilkan nuansa makna yang berbeda dari satu kata, sehingga siswa dapat memahami tidak hanya terjemahan literal, tetapi juga fungsi kata dalam kalimat sehari-hari. Pemanfaatan teknologi ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa yang lebih interaktif, sekaligus mendukung tercapainya SDGs nomor 4 mengenai pendidikan bermutu berbasis teknologi.
Pada awal kegiatan, guru menunjukkan cara bertanya tentang makna kosakata dasar kepada ChatGPT. Siswa diminta menyiapkan daftar kata yang ingin mereka pahami, kemudian mencoba menanyakannya secara langsung melalui perangkat sekolah yang telah disiapkan. Guru memberikan contoh pertanyaan efektif agar siswa tidak hanya menuliskan kata, tetapi juga memasukkan konteks sederhana sehingga jawaban yang diberikan lebih tepat sasaran. Kegiatan ini memungkinkan siswa melihat bagaimana teknologi dapat membantu memperluas wawasan bahasa, serta memperkenalkan mereka pada keterampilan literasi digital dasar yang relevan untuk pembelajaran masa kini.
Untuk memperdalam pemahaman, guru menampilkan teks pendek dalam beberapa bahasa asing sebagai bahan latihan. Siswa diminta meminta ChatGPT melakukan terjemahan sekaligus menjelaskan konteks budaya yang memengaruhi pilihan kata, termasuk formalitas, situasi penggunaan, dan ekspresi khas dalam budaya tertentu. Guru menekankan bahwa konteks tidak kalah penting dibanding arti literal, terutama saat berkomunikasi lintas budaya. Dengan cara ini, siswa belajar bahwa pemahaman bahasa berkaitan erat dengan pemahaman sosial dan budaya dari penuturnya.
Siswa kemudian bekerja dalam tiga kelompok untuk membuat kalimat sederhana menggunakan kosakata yang dipelajari. Setiap kelompok diminta menyusun beberapa variasi kalimat yang menunjukkan penggunaan kata tersebut dalam situasi berbeda, seperti sapaan, perkenalan, atau ungkapan kebutuhan. Dengan bantuan ChatGPT, mereka memeriksa kesesuaian struktur dan memastikan tata bahasa sudah tepat sebelum mempresentasikan hasilnya. Guru mengajak siswa membandingkan perbedaan pola kalimat di berbagai bahasa, sehingga mereka dapat melihat bahwa struktur bahasa memiliki aturan dan logika tersendiri.
Pada sesi refleksi, siswa menyatakan bahwa teknologi bukan hanya alat untuk menerjemahkan, tetapi juga membantu mereka memahami makna yang lebih dalam melalui penjelasan yang jelas dan mudah dipahami. Beberapa siswa mengaku bahwa fitur ini membuat mereka lebih percaya diri mencoba mempelajari bahasa asing karena mendapat umpan balik langsung yang cepat. Pembelajaran ini memotivasi mereka untuk mempelajari lebih banyak bahasa dunia dan memperkuat literasi digital, sekaligus membangun kesadaran bahwa teknologi dapat menjadi mitra belajar yang efektif bila digunakan secara bijak.
###
Penulis: Anisa Rahmawati
Gambar: Pinterest