ChatGPT Membantu Guru Menyusun Pertanyaan Reflektif dalam Pembelajaran SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dalam pembelajaran sekolah dasar, pertanyaan reflektif memiliki peran penting untuk membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Pertanyaan yang baik tidak hanya menuntut jawaban benar atau salah, tetapi mendorong siswa untuk berpikir, merasakan, dan mengaitkan pelajaran dengan pengalaman sehari-hari. Namun, tidak semua guru mudah menyusun pertanyaan reflektif yang sesuai dengan usia siswa. ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam menyusun contoh pertanyaan reflektif yang sederhana dan bermakna. Pemanfaatan ini mendukung SDGs poin 4 tentang peningkatan kualitas pendidikan.
Melalui ChatGPT, guru dapat memperoleh contoh pertanyaan reflektif yang menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami siswa SD. Misalnya, pertanyaan tentang apa yang dipelajari hari ini, bagian mana yang paling disukai, atau bagaimana materi tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan semacam ini membantu siswa tidak hanya mengingat materi, tetapi juga memahami maknanya.
Penggunaan pertanyaan reflektif membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa dilatih untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, dan pemahaman mereka dengan kata-kata sendiri. Hal ini melatih keberanian berbicara, kejujuran, serta kemampuan berpikir kritis sejak dini. Pembelajaran menjadi lebih dialogis dan tidak satu arah.
Meskipun ChatGPT dapat membantu menyediakan contoh pertanyaan, guru tetap memiliki peran utama dalam menyesuaikan pertanyaan tersebut dengan kondisi kelas. Guru perlu mempertimbangkan karakter siswa, tujuan pembelajaran, dan situasi belajar agar refleksi berjalan efektif. Dengan bimbingan guru, pertanyaan reflektif menjadi alat pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar formalitas.
Dengan memanfaatkan ChatGPT untuk menyusun pertanyaan reflektif, guru terbantu dalam menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam dan berpusat pada siswa. Siswa tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar memahami proses belajarnya sendiri. Pendekatan ini menunjukkan upaya nyata dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan bermakna sesuai dengan tujuan SDGs poin 4.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa