ChatGPT sebagai Inovasi Pembelajaran di Pendidikan Dasar untuk Mendukung SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT semakin berkembang dalam dunia pendidikan, termasuk pada jenjang pendidikan dasar. ChatGPT digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang mampu menyediakan penjelasan materi secara sederhana, memberikan contoh latihan, hingga membantu guru merancang kegiatan belajar yang lebih kreatif dan interaktif. Kehadiran ChatGPT memberikan dukungan nyata terhadap misi SDG 4 (Quality Education) yang menekankan pendidikan berkualitas, inklusif, dan dapat diakses oleh semua anak. Melalui akses digital yang mudah, siswa dari berbagai latar belakang sosial dan wilayah dapat memperoleh pendamping belajar tambahan tanpa batasan waktu dan tempat.
Selain itu, ChatGPT juga mendukung penerapan pembelajaran diferensiasi di sekolah dasar karena dapat menyesuaikan gaya penjelasan sesuai kebutuhan siswa, misalnya dengan membuat ringkasan materi, contoh soal, hingga penjelasan visual yang ramah anak. Guru pun terbantu dalam menyusun bahan ajar, asesmen, dan media pembelajaran yang menarik. Teknologi ini juga dapat menjadi sarana literasi digital sejak dini, sehingga siswa lebih siap menghadapi tantangan abad 21.
Penerapan ChatGPT berpotensi memperluas akses pendidikan yang lebih merata dan inklusif. Di daerah atau sekolah yang memiliki keterbatasan sumber daya, minimnya akses buku, atau rasio guru-siswa yang tinggi, ChatGPT dapat menjadi alternatif yang membantu siswa mendapatkan materi pembelajaran tambahan. Model pembelajaran seperti ini mendukung misi SDG 4, yaitu menyediakan pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua anak tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau geografis. UNESCO juga menekankan bahwa teknologi AI, apabila digunakan secara tepat, dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi ketimpangan pendidikan global dengan menyediakan akses belajar yang fleksibel dan berkelanjutan.
Konektivitas antara ChatGPT dan pendidikan dasar semakin jelas ketika melihat perannya dalam meningkatkan literasi digital sejak dini. Anak-anak secara bertahap belajar memahami bagaimana teknologi bekerja, bagaimana berkomunikasi dengan sistem digital, dan bagaimana menggunakan informasi secara kritis. Keterampilan ini sangat penting dalam menghadapi tantangan abad 21. AI tidak hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga melatih mereka mengakses informasi dengan bijak dan bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan arah pengembangan pendidikan global yang mendorong siswa untuk menjadi pemikir kritis, kreatif, dan adaptif.
Meski demikian, penggunaan ChatGPT tetap membutuhkan pendampingan guru serta pedoman etis yang jelas. Guru memiliki peran penting untuk memastikan bahwa informasi yang diberikan ChatGPT akurat, relevan, dan sesuai dengan konteks perkembangan anak sekolah dasar. Tanpa pendampingan, ada risiko siswa salah memahami materi atau terlalu bergantung pada teknologi. Oleh karena itu, sekolah perlu menyusun kebijakan yang tepat agar penggunaan AI tetap berada dalam koridor pendidikan yang sehat dan bertanggung jawab.
Melalui pemanfaatan yang bijaksana, ChatGPT tidak hanya berfungsi sebagai alat teknologi, tetapi juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan siswa dengan sumber belajar berkualitas dan mendukung upaya pencapaian pendidikan yang inklusif. Dengan demikian, kehadiran ChatGPT dalam pendidikan dasar berpotensi memperkuat tujuan besar pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 4, dengan memastikan bahwa setiap anak bisa mendapatkan kesempatan belajar yang adil, berkualitas, dan relevan dengan perkembangan zaman.
# # #
Penulis: Nabila Mutiara Febriyanti
Sumber: https://www.sekawanmedia.co.id/blog/chat-gpt-adalah/