ChatGPT Sebagai Media Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Perkembangan teknologi informasi telah membawa inovasi baru dalam dunia pendidikan, termasuk di Sekolah Dasar (SD). Salah satu inovasi yang menonjol adalah pemanfaatan ChatGPT sebagai media pembelajaran. ChatGPT, sebuah platform berbasis kecerdasan buatan, dapat menjadi alat yang efektif untuk menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan kemampuannya untuk memberikan tanggapan cepat dan beragam, ChatGPT memungkinkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mengeksplorasi ide, dan memecahkan masalah secara interaktif.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, berpikir kritis merupakan keterampilan yang penting untuk dikembangkan sejak dini. Siswa tidak hanya dituntut untuk memahami kosakata, tata bahasa, dan teks, tetapi juga untuk menganalisis, menilai, dan menghubungkan informasi secara logis. Dengan menggunakan ChatGPT, guru dapat memberikan stimulasi berupa pertanyaan terbuka, teka-teki bahasa, atau diskusi tentang cerita dan teks. Hal ini membantu siswa untuk berpikir lebih mendalam dan mengembangkan kemampuan refleksi terhadap informasi yang mereka terima.
Salah satu keunggulan ChatGPT adalah kemampuannya menyesuaikan jawaban sesuai tingkat pemahaman siswa. Misalnya, ketika siswa menulis cerita atau membuat puisi, ChatGPT dapat memberikan masukan berupa pertanyaan kritis, saran perbaikan, atau alternatif kata yang lebih tepat. Proses ini mendorong siswa untuk meninjau ulang hasil karya mereka dan memikirkan alasan di balik pilihan kata atau alur cerita. Dengan demikian, interaksi dengan ChatGPT bukan sekadar menerima jawaban, tetapi menjadi sarana pembelajaran aktif yang menumbuhkan analisis kritis.
Selain itu, ChatGPT juga mendorong kolaborasi dan diskusi di kelas. Guru dapat membagi siswa ke dalam kelompok untuk berdiskusi tentang jawaban atau ide yang dihasilkan oleh ChatGPT. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berbicara dan mendengarkan, tetapi juga membantu siswa belajar menghargai pendapat orang lain dan memperkuat argumen mereka sendiri. Dengan cara ini, berpikir kritis siswa berkembang secara bertahap melalui interaksi dan refleksi yang konsisten.
Dengan memanfaatkan ChatGPT sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia di SD, guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, kreatif, dan berpihak pada pengembangan kemampuan berpikir kritis. Teknologi ini tidak menggantikan peran guru, melainkan menjadi alat pendukung yang membantu siswa mengasah kemampuan analisis, evaluasi, dan ekspresi diri. Oleh karena itu, integrasi ChatGPT dalam pembelajaran dapat menjadi langkah strategis untuk membekali generasi muda dengan keterampilan berpikir kritis sejak usia dini.
###
Penulis: Sabila Widyawati