Cuaca dan Alam Sekitar: Pembelajaran IPAS yang Mengasah Kepekaan Ekologis Anak Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman anak terhadap dunia di sekitarnya. Salah satu topik yang menarik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa adalah tentang cuaca dan alam sekitar. Melalui pembelajaran ini, anak-anak tidak hanya diajak untuk mengenali berbagai jenis cuaca seperti hujan, panas, atau berawan, tetapi juga untuk memahami bagaimana perubahan cuaca memengaruhi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Pendekatan yang kontekstual membuat mereka lebih mudah menghubungkan teori dengan pengalaman nyata di lingkungan sekitar sekolah maupun rumah.
Dalam kegiatan pembelajaran IPAS, guru dapat mengajak siswa untuk melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi cuaca setiap hari. Misalnya, mencatat suhu udara, arah angin, atau curah hujan selama satu minggu. Aktivitas sederhana ini mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir ilmiah sejak dini. Selain itu, dengan mengamati perubahan cuaca, siswa belajar untuk memahami keterkaitan antara fenomena alam dan kehidupan sehari-hari. Mereka mulai menyadari bahwa hujan tidak hanya membawa air, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Lebih dari sekadar mengenali cuaca, pembelajaran IPAS juga dapat diarahkan untuk mengasah kepekaan ekologis anak. Melalui topik alam sekitar, siswa diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, serta menghemat air dan energi. Guru dapat mengembangkan proyek kecil seperti “Jurnal Cuaca dan Lingkungan Sekolah” atau kegiatan “Menanam Pohon Kelas” agar siswa lebih terlibat secara emosional dan sosial. Dari kegiatan ini, muncul kesadaran bahwa setiap tindakan kecil terhadap alam memiliki dampak besar bagi keberlangsungan kehidupan.
Selain itu, pembelajaran tentang cuaca dan lingkungan dapat dikaitkan dengan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, peduli, dan disiplin. Anak-anak belajar untuk menyiapkan diri menghadapi kondisi cuaca, seperti membawa payung saat musim hujan atau menjaga kesehatan saat cuaca panas. Pembelajaran ini menumbuhkan sikap adaptif dan tangguh terhadap perubahan alam. Dengan demikian, IPAS tidak hanya menjadi pelajaran sains, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter anak yang peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada akhirnya, pembelajaran IPAS dengan tema Cuaca dan Alam Sekitar menjadi pintu awal bagi anak sekolah dasar untuk mengenal pentingnya menjaga bumi. Melalui kegiatan yang interaktif, kontekstual, dan menyenangkan, guru dapat menanamkan nilai-nilai ekologis secara alami dalam diri siswa. Kepekaan terhadap alam yang tumbuh sejak dini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang lebih bijak, peduli, dan siap menjadi penjaga lingkungan di masa depan.
###
Penulis: Sabila Widyawati