Cuaca sebagai Sarana Pembelajaran Interdisipliner di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Cuaca dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran di sekolah dasar. Fenomena cuaca yang dialami siswa setiap hari membuat topik ini mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka. Dalam satu tema cuaca, guru dapat mengintegrasikan beberapa mata pelajaran seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika secara bersamaan. Pendekatan ini membantu siswa melihat bahwa pembelajaran tidak berdiri sendiri-sendiri. Pembelajaran interdisipliner berbasis cuaca ini sejalan dengan SDGs poin 4 yang menekankan pendidikan berkualitas dan bermakna.
Dalam pembelajaran IPA, siswa dapat mempelajari jenis-jenis cuaca, perubahan cuaca, serta pengaruhnya terhadap lingkungan. Pada mata pelajaran IPS, siswa diajak memahami bagaimana cuaca memengaruhi aktivitas manusia, seperti pekerjaan petani, nelayan, atau kegiatan sehari-hari masyarakat. Dengan cara ini, siswa tidak hanya memahami konsep alam, tetapi juga hubungan antara alam dan kehidupan sosial.
Cuaca juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa dapat diminta menulis laporan sederhana, membuat kalimat deskriptif, atau menceritakan pengalaman mereka saat menghadapi cuaca tertentu. Kegiatan ini melatih kemampuan berbahasa sekaligus memperkaya kosakata siswa. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa menulis berdasarkan pengalaman nyata.
Dalam Matematika, guru dapat memanfaatkan data cuaca sederhana, seperti menghitung jumlah hari hujan dalam satu minggu atau membandingkan kondisi cuaca cerah dan mendung. Aktivitas ini membantu siswa memahami konsep bilangan dan perbandingan secara konkret. Matematika tidak lagi terasa abstrak karena dikaitkan dengan kondisi yang benar-benar dialami siswa.
Melalui pembelajaran interdisipliner berbasis cuaca, siswa belajar memahami satu fenomena dari berbagai sudut pandang. Siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami keterkaitan antar pelajaran. Pendekatan ini membantu menciptakan pembelajaran yang utuh, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan siswa, sekaligus mendukung terwujudnya pendidikan berkualitas sesuai dengan SDGs poin 4.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa