Dampak Penggunaan Gawai Terhadap Pola Pikir dan Perilaku Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Penggunaan gawai yang tidak terkendali pada usia sekolah dasar memiliki implikasi yang signifikan terhadap transformasi pola pikir serta degradasi perilaku sosial anak-anak secara sistemis. Paparan layar yang berlebihan dapat memicu adiksi dopamin yang berakibat pada penurunan rentang konsentrasi dan kemampuan berpikir mendalam dalam menyerap materi pelajaran yang bersifat kompleks. Secara kognitif, stimulasi digital yang serbacepat cenderung membentuk pola pikir instan yang mengabaikan urgensi proses dan ketekunan dalam mencapai sebuah tujuan akademik yang bermartabat. Fenomena ini menuntut perhatian serius dari para pakar pendidikan guna merumuskan strategi intervensi yang mampu menyeimbangkan interaksi digital dengan aktivitas fisik yang menyehatkan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai dampak gawai harus menjadi bagian integral dari kurikulum literasi digital yang diajarkan di setiap satuan pendidikan dasar nasional.
Selain aspek kognitif, perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh anak akibat penggunaan gawai sering kali bermanifestasi dalam bentuk isolasi sosial serta penurunan sensitivitas terhadap lingkungan sekitar. Anak-anak yang terlalu larut dalam dunia virtual cenderung mengalami kesulitan dalam membangun komunikasi antarpribadi yang efektif serta kurang memiliki empati terhadap teman sebaya di dunia nyata. Perilaku agresif atau mudah marah juga kerap muncul sebagai dampak dari paparan konten yang mengandung kekerasan atau akibat frustrasi saat durasi bermain gawai dibatasi oleh orang tua. Pendidik harus mampu mendeteksi perubahan perilaku ini secara dini guna memberikan pendampingan psikologis yang tepat bagi siswa yang terdampak secara negatif. Transformasi karakter yang dipicu oleh teknologi harus dikelola dengan bijaksana agar tidak merusak fondasi moral dan sosial generasi penerus bangsa.
Gangguan pada pola tidur dan kesehatan fisik merupakan dampak turunan yang tidak kalah mengkhawatirkan bagi tumbuh kembang anak pada masa keemasan mereka di sekolah dasar. Radiasi sinar biru dari gawai dapat mengganggu produksi melatonin yang berakibat pada penurunan kualitas tidur dan kelelahan fisik saat mengikuti proses pembelajaran di kelas pada pagi hari. Kurangnya aktivitas motorik akibat gaya hidup sedenter di depan layar juga berisiko memicu obesitas dini serta gangguan perkembangan fisik lainnya yang merugikan kesehatan jangka panjang. Sekolah perlu menetapkan kebijakan mengenai area bebas gawai guna mendorong siswa kembali berinteraksi secara fisik dan berolahraga di lingkungan sekolah yang terbuka dan asri. Kesadaran akan pentingnya kesehatan fisik merupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen penggunaan teknologi yang bijaksana dan bertanggung jawab bagi semua pihak.
Integrasi teknologi dalam pembelajaran memang memberikan manfaat, namun harus dilakukan dengan porsi yang proporsional serta pengawasan yang ketat dari tenaga pendidik yang kompeten. Guru harus mampu merancang aktivitas yang mengombinasikan penggunaan perangkat digital dengan diskusi kelompok yang mengedepankan interaksi sosial secara langsung dan dinamis. Penggunaan gawai sebagai alat bantu edukasi harus memiliki tujuan instruksional yang jelas agar tidak sekadar menjadi sarana hiburan yang melalaikan tugas utama siswa dalam menuntut ilmu. Pemberian jeda waktu yang cukup dari layar digital selama jam pelajaran akan membantu menjaga ritme kerja otak dan kesehatan mata peserta didik secara optimal. Pendekatan yang berpusat pada keseimbangan antara dunia digital dan analog akan melahirkan generasi yang mahir teknologi tanpa kehilangan jati diri kemanusiaannya.
Sebagai kesimpulan, memahami dampak penggunaan gawai secara komprehensif adalah langkah krusial dalam menyelamatkan masa depan pola pikir dan perilaku anak-anak Indonesia yang kita cintai. Kita tidak boleh membiarkan kemajuan teknologi menjadi bumerang yang menghancurkan potensi intelektual dan moral generasi muda akibat kelalaian dalam pengawasan. Sinergi yang kuat antara sekolah dan keluarga dalam menetapkan batasan penggunaan teknologi akan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan seimbang bagi anak. Mari kita jadikan gawai sebagai jembatan ilmu pengetahuan, bukan sebagai penghalang bagi terbentuknya karakter yang luhur dan jiwa yang kuat pada diri siswa. Dengan pengelolaan yang tepat, dampak negatif teknologi dapat diminimalisasi sehingga kemajuan peradaban digital bangsa dapat berjalan selaras dengan keluhuran adab kemanusiaan.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.