Dampak Psikologis Cuaca Dingin Ekstrem: Sekolah Perlu Perhatikan Kesehatan Mental Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Cuaca ekstrem seringkali diidentikkan dengan panas berlebihan atau bencana alam seperti banjir. Namun, cuaca dingin ekstrem yang melanda beberapa wilayah pegunungan dan dataran tinggi juga membawa dampak serius yang sering terabaikan: gangguan pada kesehatan mental dan motivasi belajar siswa. Suhu rendah yang menusuk, terutama di kelas tanpa pemanas memadai, tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan fisik tetapi juga memicu kondisi psikologis tertentu yang mempengaruhi performa akademis.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan cuaca dingin yang berkepanjangan dapat mempengaruhi mood dan energi seseorang, yang pada gilirannya berdampak pada fungsi kognitif. Siswa cenderung menjadi lebih lesu, sulit berkonsentrasi, dan motivasi untuk berpartisipasi dalam KBM menurun drastis. Bagi sebagian siswa, kondisi ini bahkan dapat memperburuk gejala Seasonal Affective Disorder (SAD), meskipun kasusnya tidak seumum di negara subtropis, namun tetap relevan di daerah dengan variasi suhu yang ekstrem.
Dalam menyikapi fenomena ini, Dinas Pendidikan didorong untuk tidak hanya fokus pada penyediaan selimut atau jaket seragam, tetapi juga pada intervensi psikososial. Guru Bimbingan Konseling (BK) perlu dilatih untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal kelelahan atau perubahan perilaku yang disebabkan oleh suhu rendah. Sekolah juga dapat menyesuaikan kegiatan ekstrakurikuler, memprioritaskan aktivitas di dalam ruangan, dan meningkatkan durasi pemanasan sebelum jam pelajaran dimulai.
Beberapa sekolah inovatif mulai menerapkan "jam penghangat" di mana guru menggunakan waktu singkat di awal pelajaran untuk melakukan kegiatan interaktif yang meningkatkan energi dan mood siswa, seperti senam ringan atau diskusi ringan yang memicu tawa. Tujuannya adalah menciptakan suasana kelas yang hangat, baik secara fisik maupun emosional, sehingga siswa dapat kembali fokus meskipun suhu di luar sedang ekstrem.
Secara jangka panjang, investasi dalam infrastruktur sekolah yang ramah iklim menjadi keharusan. Ini termasuk perbaikan ventilasi untuk menjaga suhu ideal dan penyediaan fasilitas pemanas yang efisien dan aman. Dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan psikologis, sekolah dapat memastikan bahwa cuaca, sekondusif atau seburuk apa pun, tidak menjadi penghalang utama bagi keberhasilan pendidikan siswa.
Penulis : Reynaldo Hari Prastiyo
Gambar : Pinterest