Dampak Psikologis: Saat Skor TKA 2026 Menentukan Harga Diri Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Beban baru
yang paling dirasakan dari penerapan TKA 2026 adalah tekanan psikologis yang
sangat berat bagi siswa yang masih berada di usia dasar. Skor ujian kini tidak
lagi dianggap sebagai umpan balik belajar, melainkan sebagai penentu harga diri
siswa di mata teman, guru, dan orang tua. Fenomena ini menciptakan budaya
belajar yang dipenuhi ketakutan, di mana kesalahan dalam menjawab soal
dipandang sebagai kegagalan besar yang memalukan.
Psikolog pendidikan
memperingatkan bahwa paparan stres akademik yang berlebihan pada usia 11-12
tahun dapat berdampak pada kesehatan mental di masa depan. Anak-anak yang
terlalu difokuskan pada hasil tes cenderung kehilangan rasa ingin tahu alami
dan kemandirian dalam berpikir. Jika pendidikan hanya mengejar standar mutu
melalui angka, kita berisiko melahirkan generasi yang patuh pada instruksi
namun lemah dalam inovasi dan empati.
Sekolah seharusnya
menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bereksperimen dan belajar dari
kesalahan, bukan medan perang skor TKA. Peran orang tua sangat krusial dalam
memberikan pemahaman bahwa hasil tes hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan
panjang pendidikan anak. Dukungan emosional yang stabil akan membantu siswa
menghadapi TKA dengan lebih tenang dan percaya diri, sehingga potensi asli
mereka dapat keluar secara maksimal.
Perlu adanya kampanye
nasional mengenai pentingnya kesejahteraan psikologis siswa selama masa
persiapan dan pelaksanaan TKA 2026. Pemerintah dan sekolah harus menyediakan
ruang-ruang relaksasi dan dukungan konseling yang mudah diakses oleh siswa yang
mengalami kecemasan berlebih. Mutu pendidikan tidak boleh dibayar dengan trauma
anak-anak; keseimbangan antara tantangan dan dukungan harus menjadi prioritas
utama.
Refleksi akhir dari
kebijakan TKA 2026 adalah bagaimana kita memanusiakan siswa di tengah tuntutan
standar yang kaku. Pendidikan yang sukses adalah yang mampu mencetak individu
yang tangguh mentalnya sekaligus cerdas otaknya. Mari kita pastikan bahwa TKA
adalah tangga menuju kemajuan yang menyenangkan bagi anak-anak kita, bukan
beban berat yang menghancurkan kebahagiaan masa kecil mereka.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah