Dari Hafalan ke Pemecahan Masalah sebagai Titik Balik Cara Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Selama bertahun-tahun, hafalan dipandang sebagai ukuran keberhasilan belajar. Kemampuan mengingat dianggap identik dengan kecerdasan. Paradigma ini membentuk cara belajar yang menekankan pengulangan. Namun dunia berubah dengan kecepatan yang sulit ditebak. Tantangan kehidupan tidak lagi menuntut jawaban siap pakai. Ia menuntut kemampuan memahami situasi dan merespons secara adaptif. Dalam konteks inilah pergeseran menuju pemecahan masalah menjadi relevan. Pergeseran ini bukan sekadar metode baru, melainkan perubahan cara pandang. Cara belajar dituntut untuk lebih bermakna dan kontekstual.
Pemecahan masalah menempatkan pemahaman sebagai inti proses belajar. Individu diajak membaca situasi, bukan sekadar mengingat informasi. Proses ini melibatkan analisis dan penalaran. Dengan demikian, belajar menjadi aktivitas aktif. Hafalan tidak sepenuhnya ditinggalkan, tetapi ditempatkan sebagai alat bantu. Tanpa pemahaman, hafalan mudah hilang.
Paradigma lama sering menghasilkan jawaban cepat tanpa refleksi. Pemecahan masalah justru menghargai proses berpikir. Proses ini mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Dari kesalahan, muncul pemahaman yang lebih dalam. Pendekatan ini menumbuhkan keberanian mencoba.
Perubahan paradigma ini juga memengaruhi cara memandang keberhasilan. Keberhasilan tidak lagi diukur dari seberapa banyak informasi diingat. Ia diukur dari kemampuan menggunakan pengetahuan secara relevan. Kemampuan ini lebih berkelanjutan. Dalam jangka panjang, pemecahan masalah membangun daya tahan intelektual.
Pemecahan masalah melatih fleksibilitas berpikir. Fleksibilitas ini penting dalam menghadapi situasi baru. Individu tidak terpaku pada satu pola jawaban. Mereka belajar melihat berbagai kemungkinan. Cara berpikir seperti ini memperkaya pengalaman belajar.
Selain itu, paradigma pemecahan masalah memperkuat makna belajar. Belajar tidak lagi terasa terpisah dari kehidupan. Masalah yang dihadapi terasa nyata dan dekat. Keterkaitan ini meningkatkan motivasi. Motivasi yang lahir dari relevansi bersifat lebih tahan lama.
Pada akhirnya, pergeseran dari hafalan ke pemecahan masalah menjadi titik balik cara belajar. Paradigma ini menyiapkan individu menghadapi kompleksitas dunia. Belajar tidak lagi tentang mengingat, tetapi tentang memahami dan bertindak.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah