Dari Menyalin ke Menyusun Makna Pembelajaran Digital Anak melalui Canva
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Kebiasaan menyalin materi masih sering terjadi pada siswa sekolah dasar. Anak cenderung meniru tanpa memahami isi. Pembelajaran digital melalui Canva membantu mengubah kebiasaan tersebut. Dalam proses desain, menyalin teks tidak lagi efektif. Anak harus memahami isi sebelum menyusunnya. Canva mendorong siswa mengolah informasi. Proses ini membantu pembentukan makna. Anak belajar berpikir, bukan sekadar meniru. Pembelajaran menjadi lebih bermakna. Literasi pemahaman mulai berkembang.
Saat menggunakan Canva, siswa dihadapkan pada keputusan desain. Anak harus memilih teks, gambar, dan tata letak. Proses ini menuntut pemahaman konsep. Menyalin teks panjang tidak sesuai dengan desain visual. Anak belajar menyederhanakan informasi. Proses penyederhanaan melatih kemampuan berpikir. Siswa mulai memahami inti materi. Canva membantu siswa menyusun makna. Pembelajaran menjadi aktif. Anak terlibat dalam proses kognitif. Hasil belajar lebih mendalam.
Canva juga membantu siswa memahami hubungan antar konsep. Anak belajar mengaitkan informasi yang relevan. Proses ini melatih kemampuan sintesis. Siswa tidak lagi melihat materi secara terpisah. Desain membantu menyatukan berbagai ide. Anak belajar menyusun alur pemahaman. Pembelajaran menjadi terstruktur. Canva menjadi alat berpikir visual. Guru dapat melihat proses berpikir siswa. Kesalahan konsep dapat diperbaiki. Pembelajaran menjadi reflektif.
Dalam konteks literasi digital, Canva membantu siswa menggunakan teknologi secara bermakna. Anak tidak hanya menggunakan gawai untuk hiburan. Mereka belajar memanfaatkan teknologi untuk belajar. Proses ini menanamkan sikap positif terhadap teknologi. Canva digunakan sebagai alat belajar. Anak belajar bertanggung jawab dalam penggunaan digital. Pembelajaran menjadi kontekstual. Literasi digital berkembang sejak dini. Anak memahami fungsi teknologi. Proses belajar menjadi relevan. Pendidikan menyesuaikan perkembangan zaman.
Penggunaan Canva juga melatih kemandirian belajar siswa. Anak belajar menyusun materi sendiri. Guru berperan sebagai fasilitator. Proses ini mendorong rasa tanggung jawab belajar. Anak merasa memiliki hasil karyanya. Pembelajaran menjadi lebih personal. Canva memberi ruang kreativitas. Anak belajar dari proses mencoba dan memperbaiki. Kesalahan menjadi bagian pembelajaran. Proses belajar menjadi fleksibel. Motivasi belajar meningkat.
Dalam pembelajaran tematik, Canva membantu siswa mengintegrasikan berbagai materi. Anak belajar melihat keterkaitan antar tema. Proses ini melatih berpikir holistik. Desain membantu menyatukan berbagai konsep. Pembelajaran menjadi lebih utuh. Anak memahami materi secara menyeluruh. Canva mendukung pembelajaran lintas mata pelajaran. Proses menyusun makna menjadi lebih jelas. Anak belajar dari pengalaman nyata. Hasil belajar lebih bermakna.
Guru memiliki peran penting dalam mengarahkan penggunaan Canva. Guru perlu menekankan pemahaman, bukan hasil visual semata. Arahan guru membantu siswa fokus pada isi. Diskusi tentang desain memperdalam pemahaman. Guru membantu siswa merefleksikan proses belajar. Canva menjadi alat pembelajaran, bukan tujuan akhir. Pendampingan menjaga kualitas pembelajaran. Guru dapat menilai proses berpikir siswa. Pembelajaran menjadi lebih terarah. Hubungan belajar menjadi dialogis.
Secara keseluruhan, Canva membantu menggeser pembelajaran dari menyalin ke menyusun makna. Anak belajar memahami sebelum menyajikan. Proses desain melatih berpikir kritis dan reflektif. Pembelajaran menjadi aktif dan bermakna. Canva mendukung literasi digital dan kognitif. Guru memperoleh media pembelajaran yang efektif. Anak belajar membangun pengetahuan sendiri. Pembelajaran sesuai prinsip konstruktivisme. Pendidikan dasar menjadi lebih berkualitas. Canva berkontribusi pada pembelajaran abad ke-21.
Penulis: Della Octavia C. L