Dari Pola Hafalan Menuju Keberanian Berpikir Kritis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Hafalan lama dijadikan fondasi utama dalam proses belajar. Pola ini menekankan kepatuhan pada informasi yang sudah tersedia. Keberanian berpikir kritis sering terpinggirkan. Padahal dunia menuntut kemampuan menilai dan mempertanyakan. Pergeseran paradigma menjadi kebutuhan mendesak. Dari menghafal menuju berpikir kritis. Perubahan ini bukan sekadar teknis, tetapi kultural. Ia mengubah cara individu memandang pengetahuan.
Berpikir kritis menuntut keberanian intelektual. Individu diajak mempertanyakan asumsi. Proses ini tidak selalu nyaman. Namun ketidaknyamanan menjadi bagian dari pertumbuhan. Dari pertanyaan lahir pemahaman yang lebih dalam.
Pola hafalan cenderung menghindari ambiguitas. Berpikir kritis justru menghadapi ambiguitas. Ambiguitas diperlakukan sebagai ruang eksplorasi. Dalam ruang ini, pemecahan masalah berkembang. Individu belajar menimbang berbagai kemungkinan.
Berpikir kritis juga melatih kemampuan argumentasi. Pendapat disusun berdasarkan alasan. Alasan diuji secara rasional. Proses ini memperkuat kejelasan berpikir. Kejelasan ini penting dalam menyampaikan gagasan.
Selain itu, berpikir kritis menumbuhkan sikap terbuka. Individu bersedia merevisi pandangan. Revisi bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan berpikir. Sikap ini mendorong pembelajaran berkelanjutan. Belajar tidak berhenti pada satu jawaban.
Keberanian berpikir kritis juga memperkuat tanggung jawab moral. Setiap pendapat memiliki dampak. Individu belajar mempertimbangkan konsekuensi. Tanggung jawab ini menjaga agar berpikir kritis tidak berubah menjadi sikap destruktif.
Pada akhirnya, pergeseran dari pola hafalan menuju keberanian berpikir kritis meningkatkan kualitas belajar. Belajar menjadi proses reflektif dan bermakna. Paradigma ini menyiapkan individu menghadapi kompleksitas dunia.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah