Revolusi "Smart Classroom" Surabaya: Mengapa Guru Tak Perlu Takut Tergeser AI
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di
tengah pesatnya digitalisasi pascapandemi yang melanda sektor publik, sejumlah sekolah
menengah di Kota Surabaya mulai mengintegrasikan Artificial Intelligence
(AI) bukan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai asisten
administratif yang revolusioner. Sejak awal semester genap tahun 2024, para
guru di Surabaya Timur mulai memanfaatkan algoritma cerdas untuk menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta modul ajar dalam hitungan detik,
sebuah tugas yang secara tradisional memakan waktu berjam-jam setiap minggunya.
Langkah strategis ini diambil oleh Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk
menjawab tantangan kronis mengenai beban kerja guru yang selama ini dianggap
terlalu administratif sehingga menggerus waktu untuk pengembangan kreativitas.
Dengan bantuan teknologi ini, fokus guru kini bergeser kembali pada esensi mendidik
yang paling mendasar, yakni membangun karakter, etika, dan empati siswa di
dalam kelas yang dinamis.
Data statistik
menunjukkan bahwa efisiensi waktu yang dihasilkan dari pemanfaatan asisten
virtual ini mencapai angka 40 persen, yang secara langsung memberikan ruang
bagi pendidik untuk melakukan sesi konseling personal dengan murid yang
membutuhkan perhatian khusus. AI berperan krusial dalam memetakan profil
belajar siswa secara individu melalui analisis data historis, sehingga mampu
memberikan rekomendasi materi yang paling sesuai dengan kecepatan tangkap
masing-masing anak. Fenomena ini membuktikan secara empiris bahwa kecerdasan
buatan hanyalah sebuah alat (tool) yang netral, sementara ruh dan nyawa
dari proses pendidikan tetap berada sepenuhnya di tangan manusia yang memiliki
kebijaksanaan. Sekolah-sekolah di Surabaya kini bertransformasi menjadi
laboratorium hidup di mana kolaborasi antara kecerdasan mesin dan intuisi
manusia menciptakan ekosistem belajar yang jauh lebih manusiawi dan terukur.
Integrasi ini juga memicu
perubahan paradigma di kalangan orang tua siswa yang awalnya khawatir akan
hilangnya interaksi sosial di sekolah akibat dominasi teknologi digital. Guru
kini justru lebih aktif berkeliling kelas dan berdiskusi secara intensif dengan
kelompok-kelompok kecil, sementara AI bekerja di latar belakang mengelola
absensi dan penilaian otomatis yang akurat. Proses ini meminimalisir kesalahan
manusia dalam penilaian objektif dan memberikan guru basis data yang kuat untuk
memberikan apresiasi pada kemajuan sekecil apa pun yang ditunjukkan oleh siswa.
Melalui pendekatan ini, Surabaya sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia
pendidikan nasional bahwa teknologi tidak harus mengasingkan manusia, melainkan
justru mempererat hubungan emosional antara guru dan murid.
Selain efisiensi
administratif, AI juga membantu guru dalam mengeksplorasi sumber daya
pembelajaran global yang relevan dengan konteks lokal Surabaya, sehingga materi
pelajaran tidak pernah terasa usang. Dengan kemampuan penerjemahan dan
ringkasan otomatis, guru dapat menyajikan studi kasus terbaru dari jurnal
internasional yang telah disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa sekolah
menengah. Hal ini meningkatkan kualitas intelektual di ruang kelas secara
signifikan tanpa menambah beban riset yang melelahkan bagi sang pendidik yang
sudah disibukkan dengan kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, AI
berfungsi sebagai jembatan ilmu pengetahuan yang menghubungkan ruang kelas di
Surabaya dengan perkembangan global secara real-time dan efisien.
Pemanfaatan AI ini juga
mendorong terciptanya metode evaluasi yang lebih adil dan transparan bagi
seluruh siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau kemampuan awal
mereka. Algoritma yang digunakan mampu mendeteksi pola belajar yang tidak
efisien dan memberikan peringatan dini kepada guru sebelum siswa tersebut
mengalami kegagalan dalam ujian atau penurunan motivasi belajar. Guru kemudian
dapat melakukan intervensi pedagogis yang tepat sasaran, seperti memberikan
materi pengayaan atau bimbingan tambahan yang spesifik sesuai dengan kendala
yang dihadapi siswa. Pendekatan berbasis data ini menjadikan pendidikan di
Surabaya lebih proaktif dibandingkan metode lama yang cenderung reaktif
terhadap hasil akhir ujian nasional saja.
Namun, keberhasilan ini
tidak dicapai dengan mudah tanpa adanya pelatihan intensif yang dilakukan oleh
komunitas guru di Surabaya untuk memahami cara kerja algoritma secara
fundamental. Para pendidik di Kota Pahlawan ini secara rutin mengadakan
lokakarya mandiri untuk berbagi pengalaman mengenai "prompt
engineering" atau cara berkomunikasi dengan AI agar mendapatkan hasil yang
optimal bagi kebutuhan kelas. Kesadaran kolektif ini menunjukkan bahwa
guru-guru di Surabaya memiliki resiliensi dan adaptabilitas yang tinggi dalam
menghadapi disrupsi teknologi yang terjadi secara global. Mereka tidak melihat
AI sebagai ancaman terhadap eksistensi profesi, melainkan sebagai kawan
seperjuangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di era industri 4.0.
Sebagai penutup,
transformasi pendidikan di Surabaya melalui asisten AI ini menjadi bukti nyata
bahwa masa depan persekolahan sangat bergantung pada harmoni antara logika dan
rasa. AI mungkin memiliki kecepatan proses yang tidak terbatas, namun ia tidak memiliki
kemampuan untuk memotivasi siswa yang sedang jatuh mental atau memahami
keresahan batin seorang remaja. Peran guru sebagai kompas moral dan sumber
inspirasi tetap tidak tergantikan, dan justru semakin diperkuat dengan adanya
bantuan teknologi yang menangani urusan-urusan teknis. Surabaya kini sedang
merintis jalan menuju standar pendidikan baru yang tidak hanya cerdas secara
digital, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam dan
berkelanjutan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah.