Dari Rumus ke Realita: Translate Pembelajaran Matematika SD ke Kehidupan Sehari-hari
"Bu guru, untuk apa sih belajar ini? Kapan kita pakai dalam kehidupan sehari-hari?" Pertanyaan ini mungkin adalah pertanyaan yang paling sering membuat guru matematika terdiam sejenak. Bukan karena tidak ada jawabannya, melainkan karena selama ini kita memang jarang melakukan translate atau penerjemahan konsep matematika ke dalam konteks kehidupan nyata. Akibatnya, matematika menjadi sesuatu yang asing, seolah hanya ada di buku pelajaran dan tidak ada kaitannya dengan dunia yang siswa alami setiap hari.
Masalah ini dimulai dari cara kita mengajarkan matematika. Kebanyakan pembelajaran dimulai dengan rumus, dilanjutkan dengan contoh soal, dan diakhiri dengan latihan soal. Siswa diajarkan untuk menghafal rumus, mensubstitusi angka, dan menghitung hasilnya. Tidak ada penjelasan dari mana rumus itu berasal, mengapa rumus itu penting, atau bagaimana rumus itu bisa membantu mereka memahami dunia. Matematika menjadi seperangkat aturan abstrak yang harus diikuti tanpa pertanyaan. Tidak heran jika banyak siswa merasa matematika adalah pelajaran yang paling tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Padahal, matematika ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali kita berbelanja, kita menggunakan matematika. Setiap kali kita memasak, kita menggunakan matematika. Setiap kali kita merencanakan perjalanan, kita menggunakan matematika. Bahkan ketika bermain game atau mengatur jadwal harian, matematika selalu terlibat. Masalahnya adalah kita tidak pernah menunjukkan kepada siswa bagaimana konsep matematika yang mereka pelajari di sekolah sebenarnya adalah representasi dari aktivitas yang mereka lakukan setiap hari. Inilah mengapa proses translate dari rumus ke realita menjadi sangat penting.
Mari kita mulai dari konsep yang paling dasar, operasi penjumlahan dan pengurangan. Di kelas, siswa diajarkan untuk menjumlahkan dan mengurangkan angka-angka. Mereka mengerjakan puluhan bahkan ratusan soal latihan. Namun berapa banyak dari mereka yang benar-benar memahami bahwa setiap kali mereka menghitung sisa uang jajan setelah membeli jajan, mereka sedang melakukan pengurangan? Atau ketika mereka mengumpulkan stiker dari berbagai sumber, mereka sedang melakukan penjumlahan? Guru perlu secara eksplisit melakukan translate ini. Berikan tugas kepada siswa untuk mencatat semua aktivitas dalam sehari di mana mereka menggunakan penjumlahan atau pengurangan. Mereka akan terkejut menemukan bahwa hampir setiap aktivitas melibatkan operasi matematika ini.
Untuk perkalian dan pembagian, translate ke kehidupan nyata bahkan lebih penting karena konsepnya lebih abstrak. Perkalian sering diajarkan sebagai hafalan tabel perkalian. Anak-anak menghafal bahwa tiga kali empat sama dengan dua belas tanpa benar-benar memahami apa artinya. Padahal, perkalian adalah konsep yang sangat praktis. Ketika ibu membeli tiga kantong apel dan setiap kantong berisi empat apel, total apelnya adalah hasil perkalian tiga kali empat. Ketika siswa bermain dalam kelompok-kelompok kecil dan setiap kelompok terdiri dari lima anak, jumlah total anak adalah jumlah kelompok dikali lima. Dengan menunjukkan konteks-konteks konkret seperti ini, perkalian bukan lagi hafalan angka yang abstrak, melainkan cara efisien untuk menghitung hal-hal yang berulang.
Pembagian mungkin adalah operasi yang paling sulit untuk di-translate karena konsepnya bisa memiliki dua interpretasi berbeda. Pertama, pembagian sebagai "membagi sama rata". Misalnya, dua belas permen dibagi untuk empat anak, masing-masing dapat berapa? Kedua, pembagian sebagai "berapa kali muat". Misalnya, dua belas permen akan dibungkus per empat permen, berapa bungkus yang bisa dibuat? Kedua interpretasi ini sama-sama benar dan sama-sama penting untuk dipahami siswa. Guru perlu menunjukkan kedua konteks ini dalam pembelajaran. Dengan demikian, siswa memahami bahwa pembagian bukan hanya satu prosedur matematis, melainkan representasi dari dua jenis situasi berbeda dalam kehidupan nyata.
Pengukuran adalah materi yang seharusnya sangat mudah untuk di-translate ke kehidupan nyata, namun sering kali justru diajarkan secara abstrak. Siswa diajarkan untuk mengkonversi satuan, misalnya dari meter ke sentimeter atau dari kilogram ke gram, melalui hafalan. Mereka tahu bahwa satu meter sama dengan seratus sentimeter, tetapi tidak benar-benar memahami apa artinya. Cara yang lebih baik adalah membawa siswa ke lapangan dan membiarkan mereka mengukur berbagai benda dengan penggaris, meteran, atau alat ukur lainnya. Minta mereka mengukur tinggi pohon, lebar lapangan, atau panjang koridor sekolah. Ketika mereka menggunakan meteran yang hanya menunjukkan meter dan harus mengubahnya ke sentimeter untuk mencatat hasilnya, mereka akan memahami konsep konversi satuan secara bermakna. Matematika tidak lagi angka di buku, melainkan alat untuk memahami ukuran dunia di sekitar mereka.
Geometri juga sering diajarkan secara terpisah dari kehidupan nyata. Siswa menghafal rumus luas persegi panjang adalah panjang kali lebar, luas segitiga adalah setengah kali alas kali tinggi, dan seterusnya. Namun berapa banyak dari mereka yang memahami kapan rumus-rumus ini berguna dalam kehidupan? Guru bisa melakukan translate dengan memberikan proyek nyata. Misalnya, minta siswa mendesain taman sekolah. Mereka harus mengukur luas area yang tersedia, merencanakan berapa banyak tanaman yang bisa ditanam dengan jarak tertentu, dan menghitung berapa biaya yang dibutuhkan. Dalam proyek ini, rumus-rumus geometri bukan lagi sesuatu yang harus dihafal, melainkan alat yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah nyata.
Pecahan dan desimal juga memiliki banyak aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang jarang dieksplor dalam pembelajaran. Ketika siswa membantu ibu memasak dan harus menggunakan setengah sendok teh gula atau seperempat cangkir tepung, mereka sedang menggunakan pecahan. Ketika mereka melihat harga di toko yang tertulis Rp 12.500, mereka sedang berinteraksi dengan desimal. Ketika mereka membagi pizza dengan teman-teman, mereka sedang mengaplikasikan konsep pecahan. Dengan menunjukkan konteks-konteks ini secara eksplisit, siswa akan memahami bahwa pecahan dan desimal bukan hanya ada dalam soal matematika, melainkan bagian integral dari kehidupan mereka.
Data dan statistik adalah materi yang sangat relevan dengan era digital saat ini, namun sering diajarkan dengan cara yang membosankan. Siswa diajarkan untuk membuat diagram batang atau diagram lingkaran dari data yang sudah disediakan guru. Mereka tidak memahami untuk apa diagram-diagram ini dibuat. Cara yang lebih bermakna adalah meminta siswa mengumpulkan data mereka sendiri tentang hal-hal yang mereka minati. Misalnya, data tentang makanan favorit teman sekelas, waktu yang dihabiskan untuk bermain game setiap hari, atau jumlah sampah yang dihasilkan sekolah dalam seminggu. Ketika mereka mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data mereka sendiri, mereka akan memahami bahwa statistik adalah cara untuk memahami pola dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang ada.
Yang penting dalam proses translate ini adalah autentisitas. Jangan menggunakan konteks kehidupan sehari-hari hanya sebagai bungkus untuk soal matematika yang sama. Jangan membuat soal seperti "Ibu membeli 5 apel dengan harga Rp 2000 per apel, berapa total yang harus dibayar?" dan mengklaim itu adalah soal kehidupan nyata. Itu tetaplah soal matematika dengan konteks yang dibuat-buat. Konteks yang autentik adalah ketika siswa benar-benar pergi ke pasar, melihat harga-harga yang sebenarnya, dan menghitung uang yang mereka perlukan untuk berbelanja. Atau ketika mereka merencanakan acara ulang tahun dan harus menghitung budget untuk makanan, dekorasi, dan hadiah. Ini adalah situasi di mana matematika benar-benar berguna, bukan hanya dibuat-buat untuk latihan.
Untuk melakukan translate yang efektif, guru juga perlu mengubah cara evaluasi. Jangan hanya memberikan soal-soal hitungan. Berikan proyek atau tugas yang mengharuskan siswa menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah nyata. Evaluasi berdasarkan bagaimana mereka mengidentifikasi konsep matematika apa yang relevan, bagaimana mereka mengaplikasikan konsep tersebut, dan bagaimana mereka menginterpretasikan hasilnya. Ini jauh lebih bermakna daripada mengevaluasi kemampuan mereka menghitung angka-angka yang abstrak.
Pada akhirnya, melakukan translate dari rumus ke realita adalah tentang mengubah cara pandang terhadap matematika. Matematika bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dihafal. Matematika adalah bahasa untuk memahami dunia, alat untuk memecahkan masalah, dan cara berpikir yang membantu kita membuat keputusan. Ketika siswa memahami ini, pertanyaan "untuk apa belajar ini" tidak akan pernah muncul lagi. Sebaliknya, mereka akan melihat matematika di mana-mana dan menyadari betapa matematika telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka setiap hari. Penulis: Neni Mariana