Dari Simbol Inklusi Menuju Praktik Bermakna
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Inklusi sering tampil sebagai simbol kemajuan dalam pendidikan. Ia digunakan untuk menunjukkan keberpihakan pada nilai kemanusiaan. Simbol ini hadir dalam berbagai narasi dan kebijakan. Namun simbol tidak selalu menjamin praktik bermakna. Di lapangan, inklusi kerap berhenti pada tampilan luar. Transformasi mendalam belum sepenuhnya terjadi. Praktik berjalan secara prosedural. Makna inklusivitas belum sepenuhnya dirasakan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang kedalaman komitmen inklusi. Tanpa perubahan nyata, inklusi berisiko menjadi simbol kosong.
Simbol inklusi mudah diadopsi karena bersifat normatif. Namun praktik bermakna menuntut kerja lebih kompleks. Ia membutuhkan perubahan cara pandang dan relasi. Tanpa itu, inklusi hanya bersifat administratif. Keberagaman hadir tanpa penerimaan sejati.
Praktik bermakna juga menuntut kepekaan terhadap pengalaman individu. Setiap perbedaan memiliki cerita dan kebutuhan unik. Namun simbol inklusi sering mengabaikan detail ini. Pendekatan seragam tetap dominan. Inklusi kehilangan sentuhan personalnya.
Selain itu, simbol inklusi tidak selalu diiringi dengan refleksi kritis. Praktik berjalan tanpa evaluasi mendalam. Ketika masalah muncul, ia dianggap sebagai gangguan kecil. Padahal masalah tersebut menunjukkan celah serius. Tanpa refleksi, praktik tidak berkembang.
Peralihan dari simbol menuju praktik bermakna memerlukan keberanian menghadapi ketidaknyamanan. Inklusi menantang kebiasaan lama. Ia menuntut keterbukaan terhadap perubahan. Tanpa kesiapan ini, simbol akan terus mendominasi.
Praktik bermakna lahir dari keterlibatan emosional dan etis. Inklusi bukan sekadar aturan, melainkan sikap. Sikap ini tumbuh melalui pengalaman dan dialog. Tanpa dialog, inklusi kehilangan kedalaman.
Ketika simbol inklusi diiringi praktik yang tulus, pendidikan bergerak menuju keadilan nyata. Inklusi tidak lagi sekadar tampilan. Ia menjadi pengalaman hidup yang dirasakan bersama. Di situlah nilai inklusivitas benar benar hidup.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah