Dekonstruksi Paradigma Bisa Pakai HP menuju Terbentuknya Masyarakat Melek Digital yang Substantif
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dekonstruksi terhadap paradigma "bisa pakai HP" perlu segera dilakukan untuk memberikan batasan yang jelas antara penggunaan instrumental dan pemahaman substantif. Selama ini, tingginya angka penetrasi gawai pintar di Indonesia sering kali dianggap sebagai indikator keberhasilan literasi digital nasional. Padahal, penggunaan yang masif tersebut lebih banyak didominasi oleh aktivitas hiburan dan konsumsi konten yang bersifat dangkal. Masyarakat perlu menyadari bahwa teknologi seluler hanyalah sebuah medium, sedangkan substansi sesungguhnya terletak pada kualitas interaksi manusia dengan data. Perubahan pola pikir ini sangat krusial agar masyarakat tidak mudah termakan oleh narasi-narasi palsu yang menyesatkan nalar publik. Melek digital yang substantif menuntut adanya keterlibatan intelektual yang aktif dan kritis dalam setiap aktivitas daring.
Masyarakat yang melek digital secara substantif ditandai oleh kemampuan mereka dalam melakukan verifikasi silang terhadap setiap informasi yang mereka terima. Mereka tidak akan dengan mudah menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya meskipun informasi tersebut tampak sangat meyakinkan. Kemampuan analisis ini menjadi benteng pertahanan utama dalam melawan penyebaran hoaks yang kian sistematis di berbagai kanal komunikasi. Paradigma lama yang menganggap semua informasi di internet sebagai kebenaran mutlak harus segera ditinggalkan oleh masyarakat modern. Dibutuhkan skeptisisme sehat yang didorong oleh keinginan untuk mencari kebenaran berdasarkan bukti-bukti yang empiris dan sangat sahih. Dengan demikian, kualitas diskusi di ruang publik digital akan meningkat dan menjadi lebih produktif bagi kemajuan bangsa.
Transisi menuju literasi substantif juga melibatkan pemahaman mengenai cara kerja algoritma dan ekonomi perhatian yang mengendalikan banyak platform digital. Pengguna yang cerdas harus memahami bahwa setiap aktivitas mereka di internet meninggalkan jejak data yang bernilai ekonomi bagi pihak tertentu. Tanpa pemahaman ini, masyarakat hanya akan menjadi komoditas yang dieksploitasi oleh kepentingan korporasi teknologi besar secara terus-menerus. Kesadaran akan privasi dan keamanan data merupakan bagian integral dari literasi digital yang harus dimiliki oleh setiap warga negara. Kita harus mampu mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan oleh algoritma yang dirancang untuk memanipulasi perhatian dan emosi manusia. Kedaulatan digital individu dimulai dari pemahaman terhadap hak-hak yang mereka miliki sebagai pengguna internet yang berdaulat.
Selain aspek teknis dan analitis, dekonstruksi paradigma ini juga menyentuh ranah kreativitas dan produktivitas dalam menggunakan teknologi informasi. Melek digital substantif mendorong individu untuk beralih dari sekadar konsumen konten menjadi produsen konten yang edukatif dan inspiratif. Teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup, memperluas jaringan profesional, dan memperdalam pemahaman akan ilmu pengetahuan. Kemahiran menggunakan HP seharusnya diarahkan untuk mengakses kursus daring, literatur ilmiah, atau alat bantu produktivitas lainnya yang sangat bermanfaat. Jika hanya digunakan untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas, maka teknologi tersebut telah gagal menjalankan fungsi edukatifnya. Masyarakat harus didorong untuk mengeksplorasi potensi gawai pintar demi pengembangan diri yang berkelanjutan dan bermakna luas.
Secara keseluruhan, terbentuknya masyarakat melek digital yang substantif memerlukan kolaborasi sinergis antara pemerintah, akademisi, dan praktisi teknologi informasi. Program edukasi literasi digital tidak boleh hanya berhenti pada tahap sosialisasi cara menggunakan aplikasi atau media sosial tertentu. Diperlukan kurikulum yang lebih mendalam mengenai etika digital, pemikiran kritis, dan keamanan siber di semua jenjang pendidikan formal. Penekanan pada aspek substansi akan menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya mahir secara instrumental, tetapi juga bijaksana secara intelektual dalam berinteraksi dengan teknologi. Masa depan kejayaan bangsa Indonesia di ruang siber sangat bergantung pada kualitas literasi digital masyarakatnya yang sangat substantif.
Sebagai penutup, mari kita tinggalkan anggapan sederhana bahwa kemampuan mengoperasikan gawai sudah cukup untuk bertahan hidup di era digital. Dekonstruksi paradigma ini adalah langkah awal yang sangat penting untuk membangun peradaban digital yang lebih maju dan bermartabat. Setiap individu memegang tanggung jawab besar untuk terus meningkatkan kualitas literasi pribadinya demi kebaikan kolektif seluruh bangsa. Teknologi akan menjadi berkah bagi mereka yang melek secara substantif, namun bisa menjadi bencana bagi mereka yang hanya mahir secara teknis. Mari kita gunakan kekuatan digital di ujung jari kita untuk menebar kemaslahatan, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kebenaran. Akhirnya, masyarakat yang literat secara digital adalah fondasi bagi demokrasi yang sehat dan ekonomi kreatif yang sangat tangguh.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.