Deteksi Dini: Peran UKS dan Layanan Kesehatan Sekolah dalam Menjaga Mental Siswa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Transformasi
fungsi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi pusat layanan yang juga mencakup
kesehatan mental merupakan langkah strategis yang harus segera direalisasikan
di setiap sekolah dasar guna menghapus stigma dan mempercepat deteksi dini
gangguan emosional. Selama ini, layanan kesehatan sekolah cenderung hanya fokus
pada keluhan fisik seperti luka luar atau demam, sementara luka batin dan beban
psikologis siswa sering kali terabaikan karena keterbatasan kompetensi petugas.
Menghapus stigma kesehatan mental berarti menjadikan layanan konsultasi
psikologis sebagai hal yang lazim dan mudah diakses oleh siswa, persis seperti
ketika mereka mencari obat merah saat terjatuh di lapangan sekolah.
Fakta di lapangan
menunjukkan bahwa banyak kasus gangguan kecemasan pada anak yang bermanifestasi
menjadi keluhan fisik seperti sakit perut atau mual berulang, namun sering kali
diobati secara medis tanpa menyentuh akar permasalahan emosionalnya. Dengan menempatkan
tenaga konselor yang kompeten di layanan kesehatan sekolah, kita dapat
melakukan skrining awal terhadap kondisi kesejahteraan jiwa siswa secara rutin
dan berkelanjutan. Penanganan yang bersifat preventif ini tidak hanya akan
menyelamatkan kesehatan mental siswa secara individu, tetapi juga akan
memperbaiki iklim belajar sekolah secara keseluruhan karena masalah perilaku
dapat ditangani secara tepat dan humanis sebelum berujung pada tindakan
disipliner yang kaku.
Penyediaan ruang tenang
atau "quiet room" di area layanan kesehatan sekolah dapat menjadi
fasilitas yang sangat bermanfaat bagi siswa yang sedang mengalami ledakan emosi
atau membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan pikiran dari hiruk-pikuk aktivitas
kelas. Fasilitas ini harus diposisikan sebagai ruang penyembuhan yang
membanggakan, bukan sebagai ruang isolasi bagi mereka yang dicap
"bermasalah," agar siswa tidak merasa terstigma saat memasukinya.
Melalui edukasi yang konsisten, seluruh warga sekolah harus memahami bahwa
menjaga kesehatan mental adalah bentuk perawatan diri yang sangat penting dan
mencerminkan kematangan karakter seseorang dalam mengelola kehidupan
pribadinya.
Selain itu, kerja sama
antara layanan kesehatan sekolah dengan puskesmas atau lembaga kesehatan mental
profesional sangat diperlukan untuk memberikan rujukan yang cepat dan tepat
jika ditemukan kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Sekolah tidak
boleh dibiarkan berjuang sendiri tanpa dukungan sistem kesehatan publik yang
memadai dalam menjaga jiwa anak-anak bangsa yang sangat berharga. Integrasi
layanan kesehatan mental dalam struktur sekolah akan memberikan pesan kuat
kepada masyarakat bahwa pendidikan dasar Indonesia sangat serius dalam menjaga
keutuhan kualitas hidup siswa, baik secara fisik maupun psikologis secara
seimbang.
Masa depan kesehatan
mental bangsa ini ditentukan oleh seberapa serius kita membangun sistem
perlindungan jiwa di tingkat sekolah dasar saat ini. Kita harus menghancurkan
tembok stigma yang memisahkan antara kesehatan tubuh dan kesehatan pikiran
melalui penyediaan layanan yang inklusif dan ramah anak. Dengan menjadikan
kesehatan mental sebagai bagian inti dari operasional sekolah, kita sedang
membangun fondasi masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya kesejahteraan
batin, serta memastikan bahwa setiap siswa dapat tumbuh sehat seutuhnya dari
lahir hingga batin mereka.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah