Krisis Kemandirian: Dampak "Parenting Remote Control" terhadap Executive Function Anak SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan
dasar di era digital kini menghadapi tantangan baru berupa penurunan tingkat
kemandirian siswa yang dipicu oleh perilaku "Parenting Remote
Control" melalui grup WhatsApp orang tua yang sangat aktif memonitor
segala detail kehidupan sekolah anak. Fenomena ini muncul ketika orang tua
menggunakan teknologi komunikasi sebagai alat untuk mengelola jadwal, tugas,
hingga konflik sosial anak secara jarak jauh, yang secara efektif merampas
kesempatan anak untuk melatih fungsi eksekutif otak mereka di usia krusial.
Alih-alih belajar mengorganisasi diri, siswa sekolah dasar kini lebih banyak
menunggu instruksi atau bantuan "penyelamatan" dari orang tua mereka
yang mendapatkan informasi lebih cepat melalui saluran pesan singkat antar-wali
murid.
Fakta neuropsikologi
menunjukkan bahwa usia sekolah dasar adalah masa emas bagi pengembangan executive
function, yang mencakup kemampuan memori kerja, kontrol impuls, dan
fleksibilitas kognitif. Ketika orang tua melalui grup WhatsApp terus-menerus
bertindak sebagai "pengingat eksternal" untuk tugas yang harus
dikumpulkan besok atau barang yang tertinggal, otak anak tidak terlatih untuk
mengaktifkan sistem navigasi internalnya. Analisis mendalam menunjukkan bahwa
ketergantungan pada kendali jarak jauh ini dapat mengakibatkan anak mengalami
kesulitan dalam perencanaan jangka panjang dan pengambilan keputusan secara
mandiri saat mereka memasuki usia remaja dan dewasa kelak.
Intervensi yang terlalu
intens di grup WhatsApp juga sering kali melampaui urusan akademik, merambah ke
wilayah interaksi sosial di mana orang tua mencoba menyelesaikan perselisihan
antar-anak melalui obrolan digital dewasa. Hal ini mencegah anak belajar
tentang resolusi konflik, negosiasi, dan empati secara langsung di lapangan
bersama teman sebayanya. Ketika orang tua langsung "pasang badan" di
grup WhatsApp saat anaknya berselisih, anak kehilangan pelajaran berharga
tentang bagaimana menghadapi ketidaknyamanan sosial dan bagaimana membangun
hubungan kembali secara mandiri tanpa campur tangan otoritas luar.
Secara edukatif, fenomena
ini menciptakan "generasi checklist" yang hanya bergerak jika
ada panduan ketat dari orang tua, tanpa memiliki motivasi intrinsik atau rasa
kepemilikan terhadap proses belajarnya sendiri. Guru sering kali menemukan
siswa yang merasa lepas tangan terhadap tugasnya karena menganggap "itu
urusan ibu saya yang sudah tahu dari grup WA." Pola pikir ini sangat
berbahaya bagi keberlanjutan pendidikan, karena esensi belajar bukan hanya
tentang hasil akhir, melainkan tentang proses mengelola tanggung jawab dan
merasakan kepuasan saat mampu menyelesaikan hambatan secara personal.
Dibutuhkan kesadaran
kolektif untuk membatasi peran grup WhatsApp orang tua agar tidak menjadi
penghambat tumbuh kembang kemandirian anak. Sekolah harus berani menetapkan
kebijakan "hari tanpa grup WA" atau mendorong komunikasi langsung
antara anak dan guru tanpa perantara digital untuk hal-hal teknis harian.
Dengan mematikan "remote control" tersebut, kita memberikan ruang
bagi anak-anak untuk mengambil alih kemudi hidup mereka sendiri, melatih otak
mereka untuk berpikir kritis, dan menanamkan rasa percaya diri bahwa mereka
mampu menghadapi dunia sekolah dengan kekuatan pikiran dan kemandirian mereka
sendiri.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah