Detektif Sampah Digital: Canva Bantu Siswa SD Kelas Rendah Mengenali Jenis Sampah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Upaya menanamkan kesadaran lingkungan sesuai dengan SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab harus dimulai sejak dini melalui metode yang visual dan interaktif. Di tingkat sekolah dasar, guru kini memanfaatkan aplikasi Canva bukan untuk membuat desain yang rumit, melainkan sebagai papan mading digital di mana siswa kelas 1 dan 2 bisa belajar mengelompokkan gambar sampah ke dalam kategori yang benar. Siswa diajarkan untuk menarik dan melepas (drag and drop) gambar botol plastik, sisa makanan, dan kertas ke dalam kotak-kotak berwarna yang sudah disediakan guru di dalam template desain. Aktivitas ini sangat realistis bagi perkembangan motorik halus anak karena antarmukanya yang ramah pengguna dan penuh dengan elemen visual menarik yang mudah dikenali oleh anak-anak.
Dalam proses pembelajarannya, guru membimbing siswa secara perlahan untuk memahami perbedaan warna tempat sampah melalui elemen-elemen stiker yang ada di Canva. Siswa belajar bahwa warna hijau untuk sampah organik dan warna kuning untuk sampah anorganik melalui proses mencocokkan gambar yang mereka pilih sendiri dari pustaka elemen aplikasi. Penggunaan teknologi ini membuat materi kebersihan yang biasanya hanya berupa ceramah menjadi sebuah permainan visual yang menggugah rasa ingin tahu siswa. Dengan melihat representasi gambar yang jernih dan berwarna-warni, anak-anak lebih mudah mengingat jenis-jenis sampah yang sering mereka temui di kantin atau di dalam kelas mereka sehari-hari.
Kegiatan ini juga menjadi sarana yang sangat efektif untuk memperkenalkan literasi digital dasar kepada siswa kecil tanpa membuat mereka merasa terbebani oleh teknis yang sulit. Siswa belajar cara menggerakkan kursor atau menyentuh layar untuk menata elemen, yang merupakan keterampilan koordinasi mata dan tangan yang penting di era modern. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang memberikan apresiasi setiap kali siswa berhasil menempatkan gambar di kotak yang benar, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa. Kepuasan melihat hasil kerja yang rapi di layar monitor memberikan motivasi tambahan bagi siswa untuk lebih peduli pada kebersihan lingkungan nyata di sekitar mereka.
Selain aspek teknis, proyek mading digital ini juga melatih kemampuan kognitif siswa dalam hal klasifikasi dan pengamatan. Guru bisa meminta siswa mencari gambar di Canva yang mirip dengan sampah yang mereka bawa di tas sekolah, seperti bungkus roti atau botol minum sekali pakai. Hal ini menghubungkan dunia digital dengan realitas fisik mereka, membuat pelajaran lingkungan hidup terasa sangat nyata dan tidak sekadar teori di dalam buku teks. Siswa belajar bahwa setiap benda yang mereka gunakan memiliki jejak lingkungan, dan melalui desain sederhana, mereka diajak untuk menjadi bagian dari solusi menjaga bumi tetap hijau sejak usia sangat muda.
Pada akhirnya, hasil desain kolaboratif satu kelas di Canva tersebut dapat dicetak dan dipajang di depan pintu kelas sebagai pengingat bagi seluruh siswa untuk selalu membuang sampah pada tempatnya. Kebanggaan melihat nama mereka tertera sebagai pembuat poster kebersihan sekolah akan meningkatkan rasa tanggung jawab sosial mereka sebagai warga sekolah. Inovasi pembelajaran ini membuktikan bahwa teknologi desain grafis tingkat dunia bisa diadaptasi secara sederhana untuk mendukung pendidikan karakter dan kelestarian lingkungan di level pendidikan dasar secara inklusif dan menyenangkan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia